RANCANGAN MODUL INTERVENSI PERBAIKAN KUALITAS INTERAKSI MELALUI PENINGKATAN KOMPETENSI SOSIAL PADA PASANGAN MENIKAH
Perceraian merupakan suatu peristiwa yang sebisa mungkin dihindari dan diharapkan tidak terjadi,
tetapi berdasarkan data dari Departemen ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 010030007271 155.2 san r/R.19.27 Perpustakaan Pusat Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil 155.2 san r/R.19.27Penerbit Magister Psikologi : Bandung., 2013 Deskripsi Fisik xiv, 101 hlm. ; il. ; 29 cm.Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 155.2 san rTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi 2013Subyek Info Detil Spesifik TesisPernyataan Tanggungjawab SANYA DRIRINDRA PUTRANTI -
Perceraian merupakan suatu peristiwa yang sebisa mungkin dihindari dan diharapkan tidak terjadi,
tetapi berdasarkan data dari Departemen Agama RI pada tahun 2009, kasus perceraian justru
meningkat 10 kali lipat setiap tahunnya selama kurun waktu 10 tahun sejak tahun 1999. Dari
berbagai kasus perceraian diketahui adanya beberapa faktor penyebab yang menjadi pemicu
terjadinya perceraian di Indonesia, dengan sebab terbanyak adalah adanya ketidakcocokan dan
ketidakharmonisan dengan pasangan. Faktor ini dapat dikategorikan sama dengan faktor penyebab
tertinggi kasus perceraian di kota Bandung, yaitu perselisihan yang berlangsung terus-menerus.
Faktor ketidakcocokan kemungkinan diakibatkan pola pikir yang tidak sejalan dengan
pasangannya, sedangkan perselisihan terjadi selain karena pola pikir yang tidak sejalan juga
kemungkinan disebabkan masing-masing pihak lebih mengutamakan kepentingan pribadi
dibandingkan pasangannya. Dalam ilmu psikologi, fenomena ini dapat dikaji dengan
menggunakan konsep "kompetensi sosial", yaitu kemampuan individu untuk memahami dan
mengelola perilaku yang ditampilkan dalam relasi sosial secara proporsional. Kompetensi sosial
memiliki hubungan yang erat dengan penyesuaian sosial dan kualitas interaksi antar pribadi.
Individu yang berkompeten secara sosial akan marnpu menggunakan pengetahuan dan pengalaman
yang dimilikinya untuk dapat berelasi positif dengan orang lain, sedangkan individu yang kurang
mampu menggunakan cara yang tepat untuk berelasi positif dengan orang lain maka berpeluang
kesulitan untuk berinteraksi dengan baik terhadap orang di sekitarnya.
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah rancangan program berdasarkan asesmen
kebutuhan melalui pengukuran terhadap variabel "kompetensi sosial" dan variabel "kualitas
interaksi". Data penelitian diperoleh dengan menggunakan kuesioner, yang terdiri dari 80
pemyataan, meIiputi 54 pemyataan untuk mengukur variabel kompetensi sosial dan 26 pemyataan
untuk mengukur variabel kualitas interaksi. Kuesioner didistribusikan kepada 20 pasangan suami
istri dalam rentang usia pemikahan 0 - 5 tahun, dengan tingkat pendidikan minimal Sekolah
Menengah Atas (SMA), masing-masing atau keduanya berpenghasilan tetap, domisili di kota
Bandung, dan pasangan tidak menjalankan relasi pemikahanjarakjauh. Responden dipilih dengan
teknik snowball sampling.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa subvariabel "penguasaan sosial", ''tanggap sosial",
"kematangan sosial", dan "kendali sosial" dari variabel "kompetensi sosial" memiliki hubungan
yang erat dengan variabel "kuaIitas interaksi". Akan tetapi, hasil pengukuran juga menunjukkan
bahwa kualitas interaksi yang dimiliki responden cenderung berada pada tipologi dengan
karakteristik "tidak memuaskan", "hubungan putus", dan "senang di tempat lain". Hal pokok yang
tergambarkan dari hasil pengukuran terhadap variabel "kualitas interaksi" memuat inti yang sama
dengan subvariabel "penguasaan sosial" dari variabel "kompetensi sosial". Hal ini sejalan dengan
hasil pengolahan data deskriptif terhadap variabel "kompetensi sosial" yang menunjukkan bahwa
subvariabel "penguasaan sosial" merupakan subvariabel dengan jumlah terbanyak untuk kategori
"sedang" diantara keempat subvariabel lainnya. Kondisi ini menjadi pertimbangan peneliti untuk
menjustifikasi adanya kebutuhan belajar yang lebih mendesak pada subvariabel ''penguasaan
sosial" guna memperbaiki kualitas interaksi.
Rancangan intervensi dikemas dalam bentuk konseling pasangan, dengan materi yang terbagi
dalam 2 modul, yaitu (1) Harapan dan Kemampuan Pemenuhannya, (2) Negosiasi dan
Kesepakatan Pemenuhan Harapan Bersarna -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






