Detail Cantuman

Image of DILEMA BIROKRASI DALAM DEMOKRASI (STUDI POLA HUBUNGAN BUPATI DENGAN PEJABAT STRUKTURAL BIROKRASI DI KABUPATEN BANDUNG BARAT)

 

DILEMA BIROKRASI DALAM DEMOKRASI (STUDI POLA HUBUNGAN BUPATI DENGAN PEJABAT STRUKTURAL BIROKRASI DI KABUPATEN BANDUNG BARAT)


DemoIcrasi sebagai komitmen dari reformasi penyelenggaraan pemerintah
di Indonesia telah diimplikasikan dalam bentuk desentralisasi pada ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    0100111070033351 Sab d/R.17.151Perpustakaan Pusat (REF.17.151)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    351 Sab d/R.17.151
    Penerbit Magister Ilmu Sosial Dan Politik : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xiii, 132 hlm. ; il. ; 29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    351
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • DemoIcrasi sebagai komitmen dari reformasi penyelenggaraan pemerintah
    di Indonesia telah diimplikasikan dalam bentuk desentralisasi pada level
    kabupatenlkota, dengan maksud mendekatkan pelayanan dan penyelenggaraan
    pemerintah kepada masyarakat. Kabupaten Bandung Barat merupakan daerah
    otonom barn yang dibentuk berdasarkan VU Nomor 12 Tahun 2007.

    Bupati yang akan menjalankan kewenangan pemerintahan hams dipilih
    langsung oleh masyarakat setelah melalui serangkaian proses dan mekanisme
    politik. Drs. H. Abubakar, M.Si dan Drs. H. Ernawan Natasaputra, M.Si terpilih
    menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Bandung Barat sampai tahun 2013.

    Bupati sebagai pejabat pembina kepegawaian diberikan kewenangan
    melakukan pengangkatan, pem.indahan dan penurunan dalam jabatan struktural
    PNS. Untuk memperoleh gambaran bagaimana pola hubungan di antara Bupati
    dengan pejabat struktural terjalin, bagaimana proses tersebut, dan faktor apa yang
    mempengaruhinya, penulis melihatnya dengan konsep politik birokratik, dimana
    kebijakan pemerintahan lebih didasarkan pada bentuk dan tujuan yang bercorak
    birokratik.

    Metode penelitian yang digunakan adalah eksplanatoris. Data penelitian
    yang diperoleh menggunakan metode purposeful sampling dengan teknik
    pemilihan informan adalah stratified purposeful sampling. Sedangkan teknik
    pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, observasi perilaku dan
    wawancara dengan para partisipan.

    Hasil penelitian menunjukkan, pola hubungan Bupati dengan pejabat
    struktural birokrasi tidak hanya dalam kerangka positif yang menciptakan sinergi,
    tetapi juga implikasinya menjadi negatif disebabkan adanya perselingkuhan di
    antara keduanya. Kondisi tersebut terjadi berdasarkan dua ha1: Pertama, hubungan
    sosial politik. Birokrasi menjadi mesin politik kepentingan penguasa yang
    diarahkan sebagai alat negara untuk mempertahankan kekuasaan, sehingga wajah
    birokrasi tidak lebih sebagai abdi penguasa daripada sebagai pelayan masyarakat
    Kedua, hubungan ekonomi. Rekrutmen pejabat struktural birokrasi seringkali
    terdistorsi oleh kepentingan politik uang, sehingga postur kekuasaan birokrasi
    ditentukan oleh pertukaran balas jasa politik dan transaksi ekonomi antara Bupati
    sebagai patron dan birokrasi sebagai klien, dimana Bupati melakukan kesepakatan
    dengan pejabat dalam setiap jenjangjabatan struktural.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi