<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="9831">
 <titleInfo>
  <title>PERAN DUKUNGAN SOSIAL DAN STRATEGI COPING TERHADAP SELF EFFICACY MENGHADAPI SITUASI PEMICU RELAPSE PADA PENYALAHGUNA NARKOBA di kota bandung</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>YOSEPHINE MARITA EMI PRATIWI</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>Magister Psikologi</publisher>
   <dateIssued>2010</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd"></form>
  <extent>xvii, 113 hlm. ; ill. ; 29 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini didasarkan pada kondisi penyalahgunaan narkoba yang semakin &#13;
marak di Indonesia, dan Jawa Barat khususnya. Terutama di Kota Bandung, &#13;
sebagai ibu kota provinsi, kasus penyalahgunaan narkoba pun semakin meningkat. &#13;
Sekali seseorang terjerumus ke penyalahgunaan narkoba, maka akan sulit bagi &#13;
penyalahguna narkoba tersebut untuk pulih sepenuhnya. Ketika individu mencoba &#13;
untuk memulihkan diri, atau 'bersih' dari narkoba, maka situasi yang disebut &#13;
relapse adalah sebuah ancaman. Relapse adalah kondisi seseorang yang kembali &#13;
menyalahgunakan narkoba setelah beberapa waktu mengalami periode 'bersih' atau &#13;
abstinent. &#13;
&#13;
Berdasarkan penelitian sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh Marlatt dan &#13;
Gordon pada tahun 1985, self efficacy diyakini adalah faktor yang mengantarai &#13;
munculnya perilaku relapse atau tidak relapse. Masih menurut Marlatt dan &#13;
Gordon, faktor yang mempengaruhi self efficacy terutama adalah kemampuan &#13;
coping individu. Ketika individu mampu memunculkan strategi coping yang tepat &#13;
untuk mengatasi situasi beresiko tinggi, maka self efficacy individu tersebut akan &#13;
meningkat, dan kemungkinan untuk relapse akan menurun. Selain strategi coping &#13;
individu, faktor lain yang dapat mempengaruhi self efficacy adalah dukungan sosial &#13;
yang diterima oleh individu. Penelitian yang dilakukan oleh Luszchybska, Sarkar, &#13;
&amp; Knoll (in press) menemukan bahwa kesediaan pasien AIDS untuk memunculkan &#13;
perilaku yang lebih sehat berkaitan dengan dukungan sosial yang diterima. Namun &#13;
pengaruh dukungan sosial terhadap hasil terapi pada pasien AIDS tersebut &#13;
dijembatani oleh tingkat self efficacy yang dimiliki individu tersebut. &#13;
&#13;
Berdasarkan kondisi tersebut, peneliti mengajukan model pengukuran untuk &#13;
melihat pengaruh dukungan sosial dan strategi coping terhadap self efficacy &#13;
penyalahguna untuk menghadapi situasi beresiko tinggi yang dapat mengarah ke &#13;
kondisi relapse. Subyek penelitian berjumlah 76 orang, berusia 18 - 40 tahun yang &#13;
tinggal di Kota Bandung. Basil analisa statistik menggunakan SEM menyatakan &#13;
bahwa model pengukuran yang diusulkan peneliti telah fit atau sesuai. Dukungan &#13;
sosial dan coping memberikan pengaruh secara signifikan terhadap self efficacy &#13;
(Ho ditolak). Namun dukungan sosial memberikan pengaruh dalam bentuk negatif, &#13;
sedangkan coping memberikan pengaruh dalam bentuk positif. Variabel indikator &#13;
yang paling besar memberikan kontribusi dalam membentuk dukungan sosial &#13;
adalah dukungan informasi (0,95), sedangkan variabel indikator yang paling besar &#13;
kontribusinya terhadap coping adalah task oriented coping (1,00), dan urges and &#13;
temptation adalah variabel indikator yang paling kuat membentuk self efficacy &#13;
(0,92). Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa untuk &#13;
meningkatkan self efficacy perlu memperkuat keterampilan coping penyalahguna &#13;
narkoba, terutama kemampuan task oriented coping. Basil dukungan sosial yang &#13;
&#13;
. negatif tidak berarti bahwa dukungan sosial tidak diperlukan, namun sebaliknya &#13;
perlu dicermati lebih jauh dengan tindak lanjut penelitian yang lebih spesifik &#13;
meneliti tentang bentuk dukungan sosial yang tepat yang dibutuhkan oleh &#13;
penyalahguna narkoba.</note>
 <note type="statement of responsibility">YOSEPHINE MARITA EMI PRATIWI</note>
 <subject authority="">
  <topic>negatif tidak berarti bahwa dukungan sosial tidak </topic>
 </subject>
 <classification>616.865 98 Pra p</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Universitas Padjadjaran Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi</physicalLocation>
  <shelfLocator>616.865 98 Pra p/R.19.248</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">01001100700028</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan Pusat (REF.248)</sublocation>
    <shelfLocator>616.865 98 Pra p/R.19.248</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>20%252Fscan0001.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>9831</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-04-01 15:42:27</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2018-02-08 10:23:35</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>