Detail Cantuman

Image of HUBUNGAN KECENDERUNGAN SHAME DAN KECENDERUNGAN GUILT SERTA MOTIF DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA REMAJA DI 3 SMA KOTA BANDUNG

 

HUBUNGAN KECENDERUNGAN SHAME DAN KECENDERUNGAN GUILT SERTA MOTIF DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA REMAJA DI 3 SMA KOTA BANDUNG


Aksi agresi banyak terjadi di kalangan remaja, dari mulai agresi verbal (menghina,
mengolok-olok,mencaci-maki),dan agresi fisik ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001130700287155.5 pus h/R.19.95Perpustakaan Pusat (REF.19.95)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    155.5 pus h/R.19.95
    Penerbit Magister Psikologi : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    x, 107 hlm. ; ill. ; 29 cm.
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    155.5 pus h
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Aksi agresi banyak terjadi di kalangan remaja, dari mulai agresi verbal (menghina,
    mengolok-olok,mencaci-maki),dan agresi fisik (memukul,mendorong) sampai pada agresi yang
    menyebabkan konsekuensi yang lebih fatal seperti pembunuhan. Kerugian yang disebabkan oleh
    perilaku agresif meliputi kerugian materi dan immateriil. Bukan hanya luka fisik dan luka
    psikologis yang diderita oleh korban, perilaku agresif bahkan dapat menjadi sumbangan bagi
    proses belajar perilaku anak-anak yang melihat aksi agresi terse but terjadi di lingkungannya.
    Agresi menurut Berkowirtz (1995) adalah segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk
    menyakiti seseorang baik secara fisik maupun mental.

    Averil/'s (1982) mendefinisikan agresi sebagai komponen meluapkan perasaan-perasaan
    negatif, yaitu amarah. Lebih jauh Averill 's (1982) mengungkapkan bahwa perilaku agresif itu
    sendiri bukan merupakan respon dominan dari amarah yang dirasakan oleh individu. Dari studi
    yang dilakukannya ia juga menemukan bahwa terdapat pula episode kemarahan dari individu
    yang tidak direspon dengan agresi. Dengan demikian, individu dapat merespon amarah yang
    dirasakannya dengan cara yang agresif ataupun tidak. Averill's (1982) mengembangkan kerangka
    teori agresi dengan membaginya ke dalam 4 kategori perilaku agresif yaitu direct aggression,
    indirect aggression, displaced aggression dan self-directed aggression. Secara detail averill's
    (1982) juga mengungkapkan motif dibalik agresi tersebut menjadi motif malevolent (hasrat
    menunjukkan rasa tidak suka terhadap target kemarahan, hasrat membalas dendam dan hasrat
    memutuskan hubungan), motif fractious (hasrat memendam amarah hingga mereda), dan motif
    costructive(hasrat memperbaiki dan memperkuat hubungan dengan target kemarahan dan hasrat
    untuk membicarakan persoalan dengan target).

    Peneliti ingin melihat bagaimana individual differences dalam kecenderungan shame dan
    kecenderungan guilt pada remaja terkait pada cara remaja mengendalikan amarahnya. Peneliti
    melakukan penelitian untuk melihat hubungan kecenderungan shame dan kecenderungan guilt
    dengan perilaku agresif saat remaja merasa marah disertai dengan motif dibaliknya. Tujuan yang
    hendak dicapai dalam penelitian ini adalah menguji ada tidaknya hubungan antara
    kecenderungan shame dan kecenderungan guilt dengan perilaku agresif pada remaja. Tangney,
    Wagner, et al., (1996), menemukan bahwa individu dengan kecenderungan shame lebih
    memungkinkan melakukan hal-hal yang tidak konstruktif dengan amarahnya. Individu dengan
    kecenderungan shame juga terkait dengan motif malevolent dan fractious, juga dengan berbagai
    kategori perilaku agresif seperti direct aggression secara fisik dan verbal, indirect aggression
    (malediction dan harm), displaced aggression dan self-direct aggression. Sementara itu, individu
    dengan kecenderungan guilt berkorelasi positif dengan motif constructive dan berkorelasi negatif
    dengan perilaku agresij.

    Dari hasil penelitian diketahui dari alat ukur TOSCA-A yang diterjemahkan bahwa 15
    item kecenderungan shame dan 15 item kecenderungan guilt seluruhnya valid dengan ni/ai
    korelasi antara 0,326 sampai dengan O,685dan koefisien reliabilitas 0,790 untuk kecenderungan
    shame dan 0,702 untuk kecenderungan guilt. Sedangkan dari hasil penelitian untuk skala perilaku
    agresif sebanyak 64 item yang diuji cobakan terdapat 42 item yang vali dengan ni/ai korelasi
    antara 0,302 sampai dengan 0,707 dengan koefisien reliabilitas 0,855. Sementara itu untuk motif
    malevolent, fractious, dan constructive seluruhnya valid dengan ni/ai korelasi masing-masing dari
    0,429-0,747, 0,682-0,853, dan 0,442-0,888. Koefisien reliabilitas dari motif malevolent adalah
    0,707, fractious 0,682 dan constructive 0,775.

    Berdasarkan hasi/ penelitian yang dilakukan pada 100 responden remaja dapat ditarik
    kesimpulan bahwa terdapat hubungan positif dan pengaruh yang signifikan antara kecenderungan
    shame dengan motif malevolent dan fractious pada remaja. Motif malevolent memliki hubungan
    positif dan pengaruh yang signifikan dengan perilaku agresif, sementara motif fractious memiliki
    hubungan negatif dan pengaruh dengan perilaku agresij. Sementara itu terdapat hubungan positif
    don pengaruh antara kecenderungan guilt dengan motif constructive pada remaja, akan tetapi
    terdapat hubungan positif dengan peri/aku agresif dengan penaruh yang tidak signifikan.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi