Detail Cantuman

Image of Pelatihan untuk Meningkatkan Responding Joint Attention dengan menggunakan Discrete Trial Training dan Pivotal Response Training pada Severe Autism Usia 5 Tahun

 

Pelatihan untuk Meningkatkan Responding Joint Attention dengan menggunakan Discrete Trial Training dan Pivotal Response Training pada Severe Autism Usia 5 Tahun



Margaretb Rani R.S 1904.2012.0042. Pelatiban untuk Meningkatkan
Responding Joint Attention dengan menggunakan Discrete Trial Training ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001150700294155.4 sim p/R.19.68Perpustakaan Pusat (REF.19.68)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    155.4 sim p/R.19.68
    Penerbit Magister Psikologi : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xviii, 220 hlm. ; il. ; 29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    155.4 sim p
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab

  • Margaretb Rani R.S 1904.2012.0042. Pelatiban untuk Meningkatkan
    Responding Joint Attention dengan menggunakan Discrete Trial Training dan
    Pivotal Response Training pada Severe Autism Usia 5 Tabun
    Pembimbing:Dra. Lenny Kendbawati, M.Si & Afra Hafny Noer, S.Psi, M.Se

    Salah satu gangguan sosial-kornunikasi yang paling awal dideteksi pada
    anak dengan autisme adalah adanya defisit dalam keterampilan joint attention.
    Kurangnya kemampuanjoint attention pada anak dengan autisme, terutama LFA,
    akan menyebabkan anak kesulitan dalam membagi atau menyamakan perhatian
    dengan orang lain, kurangnya kontak mata, tidak mampu mengikuti arahan gestur
    dari orang lain, mengalami kesulitan sosial seperti mempelajari kemampuan
    mengurus diri, dan kurang dapat belajar kesesuaian kata-objek (bahasa).

    Defisit joint attention yang "lebih parah" pada anak LF AI severe autism
    dibandingkan anak HF AI mild autism menunjukkan bahwa anak LF A sangat
    membutuhkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan joint attentionnya,
    untuk membawa perubahan yang lebih baik bagi perkembangan anak selanjutnya.
    Respondingjoint attention merupakan bentuk awal perilaku joint attention.

    Pada penelitian ini, peneliti meraneang pelatihan yang bertujuan untuk
    meningkatkan kemampuan responding joint attention pada anak autisme dengan
    menggunakan DTT dan PRT. DTT dan PRT adalah modifikasi perilaku yang
    merupakan turunan dari ABA. Pada pelatihan ini anak autisme dilatih untuk
    melakukan responding joint attention. Adanya komponen motivasi dalam
    pe1atihan ini dapat mendorong keinginan anak untuk terlibat dalam interaksi joint
    attention.

    Raneangan pelatihan kegiatan ini dilakukan dalam bentuk quasi
    experiment dengan desain single subject design ABA. Pelatihan dilakukan kepada
    2 anak autisme usia 5 tahun selama 12 sesi, 3 kali seminggu, setting individual.
    Pelatihan didahului dengan pengukuran RJA sebagai kondisi baseline (pretest),
    lalu pengukuran frekuensi responding joint attention selama pelatihan, dan
    pengukuran kembali RJA sebagai kondisi akhir (posttest).

    Pengukuran kondisi pre dan post test menggunakan Early Social
    Communication Scales. Hasil penelitian menunjukkan setelah menerima pelatihan
    responding joint attention, kemampuan responding joint attention kedua subjek
    autisme meningkat. Subjek 1 memperoleh rata-rata persentase kemampuan
    sebesar 88.09%, yang berarti bahwa peneapaian kemampuan RJA pada anak
    tergolong tinggi (2: 80%). Subjek 2 memperoleh persentase rata-rata RJA sebesar
    59.51 %, yang berarti bahwa peningkatan kemampuan responding joint attention
    yang anak raih tergolong rendah. Peneapaian kemampuan RJA pada kedua subjek
    autisme dipengaruhi oleh intensitas perilaku repetitif dan ketertarikan stereotip.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi