KOLABORASI DALAM PENETAPAN UPAH MINIMUM DI KABUPATEN BANDUNG
Penelitian ini menjelaskan mengenai kolaborasi dalam penetapan upah minimum
di Kabupaten Bandung yang belum efektif Permasalahan dalam ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 0837 Perpustakaan Pusat Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil 351 Eli k/R.17.295.1Penerbit Pascasarjana Program Doktor Ilmu Politik UNPAD : Bandung., 2016 Deskripsi Fisik xx,;363 hlm,;29 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 351 Eli kTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab Susanti Elisa -
Penelitian ini menjelaskan mengenai kolaborasi dalam penetapan upah minimum
di Kabupaten Bandung yang belum efektif Permasalahan dalam penetapan upah
minimum di Kabupaten Bandung adalah tidak tercapai consensus, sehingga tujuan
dari penetapan upah minimum belum tercapai. Terdapat pekerja yang dibayar tidak
sesuai dengan ketentuan upah minimum. Demikian juga dari si si perkembangan
dunia usaha, yaitu terdapat penurunan laju pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini
jarang dilakukan, dimana peneliti menganalisis penetapan upah minimum dari segi
interaksi yang terjadi antara berbagai pihak untuk mencapai konsensus dalam
pengambilan keputusan. Konsep yang digunakan sebagai pedoman dalam penelitian
ini adalah collaborative governance. Dikemukakan oleh AnselI dan Gash (2007)
bahwa collaborative process sebagai inti dari model collaborative governance, dan
terdapat tiga elemen lain sebagai context dari proses kolaborasi (yaitu starting
conditions, facilitate leadership dan institutional design). Model ini digunakan untuk
menganalisis kolaborasi yang belum efektif melalui aspek outcome. Alasan pemilihan
konsep ini berdasar pada permasalahan penelitian, dimana aspek outcome,
collaborative process dan context dari proses kolaborasi dapat dijadikan pedoman
dalam mendeskripsikan kolaborasi yang terjadi.
Metode penelitian yang digunakan adalah melalui pendekatan kualitatif. Hal ini
didasarkan pada perumusan masalah, yang menuntut peneliti untuk melakukan
eksplorasi mengenai berbagai aspek di balik fenomena tentang penetapan upah
minimum. Metode kualitatif juga merupakan sarana untuk memahami individu atau
kelompok mengenai makna dari masalah social. Sehingga dari metode kualitatif ini
akan diperoleh persepsi dan pengalaman informan. Informan dalam penelitian ini
adalah anggota Dewan Pengupahan, pengusaha sector industry, serikat pekerja/serikat
buruh, dan pekerja sector industry di Kabupaten Bandung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi dalam penetapan upah minimum
di Kabupaten Bandung belum efektif karena terkait dengan proses kolaborasi dan
context dari proses kolaborasi. Dalam proses kolaborasi, kurang terdapat komitment
dan pemahaman bersama dalam penetapan nilai upah minimum (UMK) sehingga
sulit tercapai consensus. Dalam context dari proses kolaborasi, kondisi
ketidakseimbangan dan sejarah penetapan upah minimum berdampak kepada
penetapan upah minimum. Demikian juga, partisipasi dari serikat pekerjalserikat
buruh menjadi inklusif, yang terkait dengan keterwakilan. Temuan dalam penelitian
ini adalah model kontingensi dari kolaborasi yang terkait dengan uncertainty,
information asymmetry, collective action, spatial interaction dan institutional
barriers.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






