Detail Cantuman

Image of PENINGKATAN KELARUTAN, DISOLUSI DAN KETERSEDIAAN HAYATI KALSIUM ATORVASTATIN DENGAN METODE KO-KRISTALISASI

 

PENINGKATAN KELARUTAN, DISOLUSI DAN KETERSEDIAAN HAYATI KALSIUM ATORVASTATIN DENGAN METODE KO-KRISTALISASI


Atorvastatin kalsium adalah . golongan obat yang berfungsi sebagai inhibitor
HMG-CoA reduktase, yaitu senyawa yang dapat menghambat konversi ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    0777Perpustakaan PusatTersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    540 Dol p/R.14.10.1
    Penerbit program doktor Ilmu Kimia : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xvii,;115 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    540 Dol p
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Atorvastatin kalsium adalah . golongan obat yang berfungsi sebagai inhibitor
    HMG-CoA reduktase, yaitu senyawa yang dapat menghambat konversi enzim
    HMG-CoA reduktase menjadi mevalonat sehingga menghambat pembentukan
    kolesterol. Atorvastatin kalsium tergo long ke dalam bahan aktif farmasi (BAF)
    kelas dua berdasarkan Biopharmaceutics Classification System (BCS), yang
    artinya bahwa BAF tersebut memiliki kelarutan yang rendah tetapi memiliki sifat
    permeabilitas yang tinggi. Kelarutan obat yang rendah dapat mempengaruhi
    ketersediaan hayati obat, karena tingkat kelarutan obat dalam saluran cema
    merupakan faktor yang paling penting untuk tercapainya kadar obat optimum
    dalam sistem sistemik tubuh. Kelarutan kalsium atorvastatin yang praktis tidak
    larut dalam air menyebabkan laju disolusi menjadi faktor pembatas untuk laju
    penyerapan obat. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kelarutan, laju
    disolusi dan ketersediaan hayati kalsium atorvastatin dengan menggunakan
    metode ko-kristalisasi, solvent drop grinding dengan pemilihan koformemya
    menggunakan cara in silico. Hasil kajian in silico menunjukkan interaksi
    atorvastatin-aspartam menghasilkan energi ikatan yang paling kecil (E = -4,70
    kkal/mol). Proses ko-kristalisasi kalsium atorvastatin-aspartam dibuat dengan
    metode solvent drop grinding, kalsium atorvastatin dan koformer (aspartam)
    masing-masing dengan ratio 1: 1 ekimolar selama grinding 15 menit sambil
    ditambahkan sejumlah kecil metanol. Ko-kristal dikarakterisasi menggunakan
    difraksi sinar-X, differential scanning calorimetry (DSC), spektroskopi
    inframerah, mikroskop polarisasi, scanning microscope electron (SEM), hasilnya
    memperlihatkan campuran antara kristal dan amorf. Hasil uji kelarutan dalam air
    dari ko-kristal kalsium atorvastatin-aspartam meningkat sekitar 268,16% lebih
    tinggi daripada kalsium atorvastatin muminya. Hasil dari uji disolusi terbanding
    pada menit ke-30 dalam media air, dapar klorida pH 1,2; dapar asetat pH 4,5 dan
    dapar fosfat pH 6,8 memperlihatkan peningkatan yang signifikan. Pengujian
    ketersediaan hayati dilakukan dari suspensi encer yang mengandung kalsium
    atorvastatin, dan campuran antara kristal dan amorf kalsium atorvastatin­
    aspartam (setara dengan 20 mg kalsium atorvastatin) diberikan pada dua
    kelompok tikus terdiri atas 6 ekor. Sampel darah masing-masing kelompok
    pengujian diambil pada waktu 0; 0,5; 1; 2; 4; 5; 6; 7;8; dan 10 jam setelah
    pemberian obat. Kadar kalsium atorvastatin dalam plasma dianalisis dengan
    KCKT. Kemudian, dihitung AUC, t.maks dan c.maks. Hasil pengujian
    ketersediaan hayati relatif campuran antara kristal dan amorfkalsium atorvastatin­
    aspartam (1 : 1) yang dibuat dengan metode solvent drop grinding dapat
    meningkatkan ketersediaan hayati relatif hingga 150% lebih tinggi dibandingkan
    dengan kalsium atorvastatin mumi.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi