Detail Cantuman

Image of METABOLIT SEKUNDER DARI KULIT BATANG Chisocheton celebicus DAN Chisocheton cumingianus SERTA AKTIVITAS SITOTOKSIKNYA TERHADAP SEL MURIN LEUKEMIA P-388

 

METABOLIT SEKUNDER DARI KULIT BATANG Chisocheton celebicus DAN Chisocheton cumingianus SERTA AKTIVITAS SITOTOKSIKNYA TERHADAP SEL MURIN LEUKEMIA P-388


Genus Chisocheton merupakan salah satu anggota famili Meliaceae terdiri dari
50 spesies yang terdistribusi luas di India, Thailand, Malaysia, ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    0749Perpustakaan PusatTersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    540 Dew m/R.14.10.2
    Penerbit program doktor Ilmu Kimia : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xx,;139 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    540 Dew m
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Genus Chisocheton merupakan salah satu anggota famili Meliaceae terdiri dari
    50 spesies yang terdistribusi luas di India, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.
    Genus Chisocheton dilaporkan menghasilkan senyawa aktif yang bersifat
    sitotoksik, antiinflamasi, antilipid dan apoptosis. Studi fitokimia sebelumnya
    pada genus Chisocheton telah dilaporkan adanya beberapa senyawa yang
    menarik meliputi limonoid, triterpenoid damaran dan tirukalan, steroid, dan
    fenolik. Pada penelitian berkelanjutan kami untuk mencari senyawa antikanker
    dari tumbuhan Chisocheton Indonesia, ekstrak n-heksana dan etil asetat dari
    kulit batang C. celebicus dan C. cumingianus menunjukkan aktivitas sitotoksik
    yang signifikan terhadap sel murin leukemia P-388. C. celebicus dan C.
    cumingianus merupakan tumbuhan tinggi dan ditemukan di hutan hujan tropis
    Indonesia terutama di bagian utara pulau Sulawesi. Walaupun genus
    Chisocheton telah dilaporkan mengandung senyawa triterpenoid, limonoid,
    steroid, dan fenolik, tetapi kandungan kimia dari kulit batang tumbuhan C.
    celebicus dan C. cuminganus belum dilaporkan sebelumnya. Serbuk kering kulit
    batang C. celebicus dan C. cumingianus masing-masing diekstraksi berturut­
    turut dengan n-heksana, etil asetat, dan metanol pada suhu kamar. Ekstrak yang
    diperoleh dipekatkan pada tekanan rendah dan selanjutnya dievaluasi aktivitas
    sitotoksiknya terhadap sel murin leukemia P-388. Hasil uji sitotoksik terhadap
    sel murin leukemia P-388 menunjukkan bahwa ekstrak n-heksana dan etil asetat
    dari kulit batang C. celebicus menunjukkan aktivitas sitotoksik sedang dengan
    nilai ICso 16,9 dan 19,9 ug/ml., dan ekstrak n-heksana dan etil asetat dari kulit
    batang C. cumingianus menunjukkan aktivitas sangat aktif dengan nilai K'so 2,5
    dan 3,4 ug/ml., ekstrak metanol dari kulit batang tersebut tidak memberikan
    aktivitas sitotoksik. Ekstrak n-heksana dan etil asetat dari kulit batang C.
    celebicus dipisahkan senyawanya dengan teknik kromatografi pada fasa diam
    silika gel dan aDS dihasilkan senyawa 1-4, sedangkan ekstrak »-heksana dan
    etil asetat dari kulit batang C. cumingianus dihasilkan senyawa 5-8. Senyawa 1-8
    ditentukan struktur kimianya berdasarkan data spektroskopi dan perbandingan
    data spektra yang diperoleh sebelumnya dan ditetapkan sebagai senyawa
    triterpenoid lanostan baru, 3f3-hidroksi-25-etil-Ianost-9(11),24(24')-dien (5), dan
    senyawa limonoid baru chisotrijugin (7), serta enam senyawa yang telah dikenal,
    stigmasterol (1), damara-20,24-dien-3-on (2), 7u-hidroksi-6-metoksi kumarin
    (3), stigmast-5-en-3f3-o1 (4), 3f3-hidroksi-tirukala-7-en (6), dan f3-sitosterol-3-0-
    asetat (8). Senyawa 1-8 dievaluasi sifat sitotoksiknya terhadap sel murin
    leukemia P-388 secara in vitro dan senyawa 6 (3f3-hidroksi-tirukala-7-en)
    menunjukkan aktivitas yang aktif dengan nilai ICso 4,3 ug/rnl., Senyawa 1-5 dan
    senyawa 7-8 tidak aktif dengan nilai ICso berturut-turut 12,4; 30,4; 16,5; 60,8;
    28,9; 32,8; dan >100 ug/ml., Aktivitas sitotoksik dari senyawa triterpenoid
    dipengaruhi oleh adanya gugus hidroksil pada C-3 dan posisi gugus olifenik,
    sedangkan pada senyawa steroid dipengaruhi oleh adanya gugus hidroksil pada
    C-3, posisi gugus olifenik dan gugus asetil pada C-3.

    iii

    ~ •• _-.:t: _ .- _ •. __ ~_~- -_
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi