POTENSI DAN PENYEBARAN SERTA KARAKTERISTIK FISIK, MEKANIK DAN ANATOMI MAKRO KAYU SURIAN (Toona sinensis Roem. ) PADA BERBAGAI KONDISI EKOLOGI DI JAWA BARAT
Kebutuhan kayu yang tinggi menuntut pengembangan jenis-jenis kayu cepat
tumbuh. Surian (Toona sinensis Roem) merupakan salah satu jenis cepat ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 01001120100241 630 Suh p/R.15.42 Perpustakaan Pusat (REF.15.42) Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil 630 Suh p/R.15.42Penerbit Program Pascasarjana Unpad : Bandung., 2012 Deskripsi Fisik xvi,;194 hlm,;29 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 630 Suh pTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab Suhaya Yoyo -
Kebutuhan kayu yang tinggi menuntut pengembangan jenis-jenis kayu cepat
tumbuh. Surian (Toona sinensis Roem) merupakan salah satu jenis cepat tumbuh
dengan sifat dekoratif (tekstur, kilap dan corak) menyerupai kayu jati. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui potensi dan penyebaran surian di Jawa Barat, mempelajari
faktor-faktor yang berpengaruh terhadap karakteristik kayu (fisik, mekanik dan
anatorni makro), membandingkan karakteristik kayu pada berbagai kondisi ekologi,
dan mempelajari pola pertumbuhan surian. Penelitian ini terbagi dalam dua tahap,
yaitu penelitian survey untuk mengetahui potensi dan penyebaran surian di Jawa Barat,
dan penelitian kuantitatif untuk menghubungkan kondisi ekologi dengan karakteristik
kayu, serta membandingkan karakteristik kayu surian di Jawa Barat. Hasil penelitian
menunjukkan potensi kayu surian di Jawa Barat sebesar 163.877,9 m, dengan
penyebaran meliputi Kabupaten Kuningan, Ciamis, Tasikmalaya, Majalengka,
Sumedang, Garut, Bandung, Bandung Barat, dan Cianjur. Variable yang berpengaruh
terhadap karakteristik kayu (riap dan luas lingkaran tumbuh) adalah tebal topsoil, C
organik, P-tersedia, K-tersedia, ketinggian, dan tipe curah hujan (Q). Kerapatan kayu
dipengaruhi tebal topsoil, C-organik, K-tersedia, ketinggian, dan tipe curah hujan (Q).
Keteguhan patah (MOR) dipengaruhi porositas tanah, P-tersedia, K-tersedia, dan tipe
curah hujan (Q), dan keteguhan lentur (MOE) dipengaruhi tebal topsoil, C-organik
dan K-tersedia. Tanah dengan topsoil tebal, porositas, C-organik, K-tersedia, dan curah
hujan (Q) yang relatif lebih tinggi, menghasilkan laju pertumbuhan lebih tinggi. Wado
(Sumedang), Lemah Sugih (Majalengka) dan Sukasari (Sumedang) menghasilkan riap
tinggi, tetapi memiliki kerapatan, keteguhan patah (MOR) dan keteguhan lentur
(MOE) relatif rendah. Cibugel (Sumedang), Darma (Kuningan) dan Jatinangor
(Sumedang) menghasilkan riap rendah, tetapi memiliki kerapatan, keteguhan patah
(MOR) dan keteguhan lentur (MOE) relatif tinggi. Terdapat kecenderungan yang
bertolak belakang antara riap dengan kerapatan dan sifat mekanisnya. Pada awal
pertumbuhan, luas lingkaran tumbuh surian meningkat pesat, kemudian agak stagnan
mulai umur 12 tahun. Untuk produktifitas lahan yang maksimal, penebangan surian
harus berumur lebih dari 12 tahun.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






