<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="8545">
 <titleInfo>
  <title>KEBEBASAN PERS DALAM AKTIVITAS JURNALISTIK DI DAERAH KONFLIK</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>NAHRIA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>Program Pascasarjana Unpad</publisher>
   <dateIssued>2015</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd"></form>
  <extent>xxii,;759 hlm,;29 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini bertujuan memahami kebebasan pers di Papua, pemaknaan &#13;
jurnalis terhadap kebebasan pers, kebebasan pers dalam pemberitaan isu-isu &#13;
sensitif dan penyebab rentannya para jumalis mengalami tindak kekerasan. &#13;
&#13;
Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus dengan &#13;
paradigma konstruktivis. Subjekdalam penelitian ini sebanyak 23 jurnalis yang &#13;
dipilih secara purposif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara &#13;
mendalam, pengamatan, dokumentasi dan studi literatur. Data dianalisis dengan &#13;
cara penyajian data, reduksi dan penarikan kesimpulan. &#13;
&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebebasan pers dalam aktivitas &#13;
jurnalistik di Provinsi Papua sebagai daerah konflik belum berjalan baik karena &#13;
hambatan internal pers (pers yang belum sehat secara ekonomi dan rendahnya &#13;
profesionalisme jurnalis) dan hambatan eksternal (sulitnya akses informasi bagi &#13;
jurnalis). Parajurnalis menyikapi kondisi ini dengan cara menghindari situasi dan &#13;
kondisi yang membahayakan keselamatan diri, membangun komunikasi dengan &#13;
berbagai pihak, mencari sumber berita alternatif, dan memberitakan sisi lain dari &#13;
pihak yang berkonflik. &#13;
&#13;
Jurnalis memaknai kebebasan pers sebagai bebas dari segala macam &#13;
ancaman, larangan serta intimidasi, bebas untuk membangun hubungan dengan &#13;
siapapun dan bebas untuk memberikan informasi yang benar, objektif dan tidak &#13;
mengada-ada sebagai bentuk tanggung jawab kepada publik. Jurnalis memaknai &#13;
jaminan kebebasan pers dalam Undang-undang Pers No.40 tahun 1999 masih &#13;
memerlukan ketegasan dan pembahasan khusus terutama tentang aktivitas &#13;
jurnalistik dan perlindungan khusus di daerah konflik sebagai sebuah kebutuhan &#13;
dalam berbagai bentuk seperti asuransi dan perlengkapan kerja khusus. &#13;
&#13;
Kebebasan pers dalam pemberitaan isu-isu sensitif di Provinsi Papua sebagai &#13;
daerah konflik menuntut para jurnalis mempertimbangkan keselamatan diri (tidak &#13;
memberikan ruang yang besar dalam pemberitaan bagi kelompok yang &#13;
berseberangan dengan pemerintah, tidak memberitakan isu Papua merdeka atau &#13;
isu-isu sensitif lainnya serta menunda pemberitaan jika situasi dan kondisi sedang &#13;
memanas), menggunakan bahasa yang berperspektif damai (memperhalus bahasa &#13;
yang digunakan dengan tidak menyebut secara terbuka pihak yang terlibat dalam &#13;
konflik dan mengangkat sisi lain dari pihak yang berkonflik) dan berpegang teguh &#13;
pada kode etik jurnalistik (memberitakan fakta apa adanya dan memperhatikan &#13;
perimbangan nara sumber). &#13;
&#13;
Penyebab masih rentannya jurnalis mengalami tindak kekerasan di Provinsi &#13;
Papua sebagai daerah konflik karena faktor internal (rendahnya profesionalisme &#13;
j urnalis, kurang maksimalnya peran perusahaan pers dalam memberikan &#13;
perlindungan kepada jurnalis, dan kurang maksimalnya peran organisasi jurnalis &#13;
dalam membantu penyelesaian kasus kekerasan yang dialami jurnalis) dan faktor &#13;
eksternal pers (kurangnya pemahaman aparat keamanan, pemerintah, dan &#13;
masyarakat akan profesi jurnalis dan tugas jurnalistiknya).</note>
 <note type="statement of responsibility">Nahria</note>
 <subject authority="">
  <topic>Kebebasan Pers, Aktivitas Jurnalistik, Daerah Konf</topic>
 </subject>
 <classification>302.2 Nah k</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Universitas Padjadjaran Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi</physicalLocation>
  <shelfLocator>302.2 Nah k/R.17.102</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">01001150100070</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan Pusat (REF.17.102)</sublocation>
    <shelfLocator>302.2 Nah k/R.17.102</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>scan0001.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>8545</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-04-01 15:33:22</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2017-07-26 08:39:34</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>