Detail Cantuman

Image of FAKTOR DETERMINAN STRUKTUR MODAL INDUSTRI PARIWISATA PADA PERUSAHAAN ATRAKSI WISATA, HOTEL, RESTORAN, DAN PERJALANAN WISATA YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

 

FAKTOR DETERMINAN STRUKTUR MODAL INDUSTRI PARIWISATA PADA PERUSAHAAN ATRAKSI WISATA, HOTEL, RESTORAN, DAN PERJALANAN WISATA YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA


Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh faktor .determinan struktur modal dalam
pengambilan keputusan bauran pendanaan hutang dan ekuitas ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001150100051658 Bud f/R.12.144Perpustakaan Pusat (REF.12.144)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    658 Bud f/R.12.144
    Penerbit Program doktor fakultas ekonomi UNPAD : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xiii,;233 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    658 Bud f
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh faktor .determinan struktur modal dalam
    pengambilan keputusan bauran pendanaan hutang dan ekuitas serta implikasi peneranan trade
    off theory atau pecking order theory dalam industri pariwisata pada perusahaan atraksi wisata,
    hotel, restoran, dan perjalanan wisata yang belum dilakukan secara komprehensif pada penelitian
    terdahulu.

    Dengan menggunakan metode analisis regresi common effect model (pooled EGLS) pada
    26 perusahaan berkarakteristik atraksi wisata, hotel, restoran, dan perjalanan wisata yang
    terdaftar di Bursa Effek Indonesia periode 2008 - 2012, ditemukan faktor determinan likuiditas,
    profitabilitas, risiko sistematik berpengaruh positif signifikan, risiko bisnis dan ukuran
    perusahaar. berpengaruh negatif signifikan, sedangkan working capital dan peluang pertumbuhan
    tidak berpengaruh terhadap struktur modal industri pariwisata.

    Dalam pengambilan keputusan proporsi bauran pendanaan struktur modalnya, trade off
    theory menyarankan untuk memperbesar hutang dengan meningkatkan tingkat Iikuiditas,
    profitabilitas dan return sahamnya, sedangkan pecking order theory menyarankan untuk
    mengurangi hutang dengan memperkecil risiko bisnis melalui optimalisasi penggunaan dana
    ekuitas dari total asset untuk meningkatkan laba dengan meningkatkan volume penjualan serta
    efisiensi biaya.

    Implikasinya karakteristik industri pariwisata mayoritas menerapkan trade off theory.

    Perusahaan atraksi wisata cenderung menerapkan trade off theory, sedangkan perusahaan hotel,
    restoran dan perjalanan wisata cenderung menerapkan trade off theory serta pecking order
    theory.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi