<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="8250">
 <titleInfo>
  <title>KOMUNIKASI  BIAS GENDER DALAM LINGKUNGAN PESANTREN AL-ISHLAH BOBOS DI CIREBON (Analisis Kritis Perilaku Komunikasi  Laki-Laki dan Perempuan )</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>YAYAH NURHIDAYAH</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>program doktor Ilmu komunikasi</publisher>
   <dateIssued>2015</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd"></form>
  <extent>xvii,;387 hlm,;29 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Perempuan di lingkungan pesantren belum memiliki kedudukan OOn peran &#13;
yang sama dengan laki-laki. Kepemimpinan perempuan masih dianggap sebagai &#13;
sumber fitnah. Pe ran perempuan masih terbatas pada peran-peran gender &#13;
tradisional sebagai ibu, atau isteri yang selalu berkutat dengan pekerjaan-pekerjaan &#13;
domestik. Peran publik perempuan tidak dihargai secara sama sebagaimana peran &#13;
yang dimainkan o/eh laki-laki. Dengan demikian, kontribusi perempun dalam &#13;
memenuhi ekonomi keluarga tidak mempengaruh posisi dan status sosial perempuan &#13;
dalam keluarga mall pun di masyarakat. Perempuan tetap saja tidak memiliki hak &#13;
untuk melakukan bargaining position (posisi tawar-menawar), mereka tetap &#13;
mengalami sub-ordinasi, marginalisasi, stereotype, kekerasan OOn beban kerja &#13;
ganda. Di pesantren sebagai lembaga dan tempat komunitas santri be/ajar &#13;
nilai-nilai ajaran Islam, praktek-praktek bias gender ini makin kuat, karena &#13;
memperoleh legitimasi dari teks (kitab) sebagai doktrin agama yang membentuk &#13;
perilaku santri laki-laki OOn perempuan OOn seluruh civitas pesantren, bahkan &#13;
bukan hanya bias gender, tetapi juga misogini. Melalui Disertasi ini penulis ingin &#13;
mengangkat tema &quot;Bias Gender dalam Komunikasi di Lingkungan Pesantren &quot;. &#13;
&#13;
Tujuan penelitian ini adalah ingin mengungkap OOn membongkar serta &#13;
memperoleh gambaran tentang: 1). Komunikasi laid-laid dan perempuan di &#13;
Lingkungan Pesantren; 2), Sumber Jdeologi bias gender di Lingkungan Pesantren &#13;
OOn 3) Bias Gender dalam komunikasi di Lingkungan Pesantren. Metode penelitian &#13;
yang digunakan berupa metode kualitatif, dengan pendekatan kritis 0011 &#13;
menggunakan analisis Standpoin Theory OOn Mute Group Communication Theory. &#13;
&#13;
Hasil penelitian ini menjelaskan beberapa temuan sebagai berikut: 1) &#13;
terdapat bias gender dalam Komunikasi Laid-laid dan Perempuan di lingkungan &#13;
pesantren disebabkan persepsi, sikap dan perlakuan yang berbeda dari masyarakat, &#13;
sekolah OOn pesantren terhadap laki-laki dan perempuan. 2). Pemilihan sumber &#13;
ajaran oleh Agen ideologi di Pesantren mempengaruhi bias gender dalam &#13;
komunikasi di Pesantren. 3). Bias gender dalam komunikasi di lingkungan pesantren &#13;
dapat membatasi kesempatan, akses, partisispasi, kontrol perempuan terhadap &#13;
berbagai sumber daya yang ada di lingkungan pesantren dan membatasi perempuan &#13;
dalam menerima manfaat yang sama dengan laki-laki dari berbagai fasilitas yang &#13;
aOO di lingkungan pesantren. &#13;
&#13;
Oleh karena itu, usaha untuk mengatasi problem bias gender dalam &#13;
komunikasi di lingkungan pesantren dilakukan dengan: 1). Merubah persepsi 0011 &#13;
memberikan perlakuan yang setara kepada laki-laki dan perempuan; 2) &#13;
Menciptakan komunikasi simetris diantara seluruh civitas pesantren; 3). membaca &#13;
kembali teks kitab dalam kaca mata baru dengqn pendekatan kontekstualisasi teks, &#13;
4). Pesantren hams merumuskan kebijakan adil gender dalam setiap program OOn &#13;
kegiatan internal pesantren. &#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility">NURHIDAYAH YAYAH</note>
 <subject authority="">
  <topic>gender, bias gender, pesantren, komunikasi.</topic>
 </subject>
 <classification>302.2 Yay k</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Universitas Padjadjaran Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi</physicalLocation>
  <shelfLocator>302.2 Yay k/R.21.24.1</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">02118</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan Pusat</sublocation>
    <shelfLocator></shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>20%252Fscan0001.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>8250</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-04-01 15:33:21</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2017-10-03 13:05:20</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>