Detail Cantuman

No image available for this title

Manuscript  

Gambaran Pengalaman Dokter Gigi di Kota Bandung dalam Menjumpai Pasien Syok di Tempat Praktik


Pendahuluan: Dalam praktik sehari-hari, dokter gigi memiliki potensi
dalam menjumpai keadaan darurat, salah satunya adalah syok. Secara ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    IBM1 - 279279 617.605 Mar GJatinangor (Ilmu Bedah Mulut)Tersedia namun tidak untuk dipinjamkan - No Loan
  • Perpustakaan
    Fakultas Kedokteran Gigi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    617.605 Mar G
    Penerbit FKG Unpad : FKG UNPAD JATINANGOR.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    160110180107
    Klasifikasi
    617.605
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Pendahuluan: Dalam praktik sehari-hari, dokter gigi memiliki potensi
    dalam menjumpai keadaan darurat, salah satunya adalah syok. Secara umum
    gejala yang terjadi pada pasien syok diantaranya malaise, takikardia, penurunan
    tekanan darah, lemah serta penurunan hingga kehilangan kesadaran. Tata
    laksana dan penanganan pertama pada pasien syok penting dilakukan oleh
    dokter gigi guna meminimalkan efek samping dan komplikasi dari keadaan
    tersebut. Pelatihan kegawatdaruratan diperlukan untuk mengembangkan
    keterampilan yang dibutuhkan oleh dokter gigi untuk mengatasi keadaan
    darurat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengalaman dokter gigi di Kota
    Bandung dalam menjumpai pasien syok di tempat praktik. Metode: Data yang
    dikumpulkan berupa profesi, jenis tempat praktik, lama praktik, frekuensi
    menjumpai pasien syok serta penanganannya dan frekuensi pelatihan
    kegawatdaruratan. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan
    program IBM SPSS Statistics 25 dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi
    frekuensi. Hasil: 58,1% responden pernah menjumpai pasien syok baik
    sebelum, selama maupun setelah tindakan. Keadaan tersebut terjadi 1-5
    kali/tahun hingga 5-10 kali/bulan. 78,7% responden memilih ekstraksi gigi
    sebagai tindakan yang paling sering menyebabkan keadaan darurat seperti syok.
    Sebanyak 78,7% responden memberikan asupan cairan sebagai tindakan
    penangangan gejala syok ringan. Sedangkan pada gejala kehilangan kesadaran
    atau pingsan, 89,8% responden membaringkan pasien sebagai tindakan
    penanganan. Kebanyakan dari responden hanya mendapatkan pelatihan
    kegawatdaruratan 1-3 kali selama menjadi dokter gigi. Simpulan: Sebagian
    besar dokter gigi di Kota Bandung pernah menjumpai pasien syok di tempat
    praktik dan pernah mengikuti pelatihan kegawatdaruratan selama menjadi
    dokter gigi. Tindakan yang paling sering dilakukan dokter gigi dalam
    penanganan syok adalah membaringkan pasien.
    Kata Kunci: Syok, penanganan syok, pengalaman, kegawatdaruratan,
    dokter gigi
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi