
Text
Aktivitas Antihepatotoksik dari Ekstrak Etanol Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.) Pada Tikus Dalam Bentuk Tablet
Tumbuhan meniran (Phyllanthus niruri L.) merupakan suatu tumbuhan yang memiliki khasiat antihepatotoksik. Pada penelitian ini dilakukan pengujian ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 01021101000121 Tersedia -
Perpustakaan Fakultas FarmasiJudul Seri -No. Panggil 2452Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : ., 2010 Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 2452Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi NULLSubyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab NULL -
Tumbuhan meniran (Phyllanthus niruri L.) merupakan suatu tumbuhan yang memiliki khasiat antihepatotoksik. Pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas antihepatotoksik dalam bentuk sediaan tablet dari ekstrak etanol herba meniran (Phyllanthus niruri L.) terhadap tikus yang diinduksi oleh parasetamol yang diberikan secara oral dengan dosis 3 g/kg BB. Berdasarkan penelitian sebelumnya dosis efektif untuk tikus adalah 120 mg/kg BB tikus. Untuk itu dibuat 3 formula tablet dosis efektif meniran untuk manusia didapat sebanyak 224 mg. Dalam tiap tablet mengandung diantaranya avicel PH 102 sebagai pengisi, primojel sebagai penghancur dan pengikat, aerosil, talcum, dan magnesium stearat sebagai pelincir, dan starch 1500. Evaluasi sediaan yang dibuat telah memenuhi standar diantaranya friabilitas 0,73%, waktu hancur 8 menit 14 detik, kompresibilitas 12,5%, sudut istirahat , kadar air 17,8 g/detik, daya alir 2%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula yang dibuat memenuhi persyaratan sebagai suatu sediaan farmasi yang baik seperti yang tertera pada Farmakope. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya didapat dosis efektif terhadap tikus sebagai antihepatoprotektor adalah 120 mg/kg BB. Pada penelitian ini menggunakan 5 kelompok uji yaitu kelompok kontrol normal, kelompok kontrol negatif, kelompok 1 dengan pemberian dosis 120 mg/kg BB, kelompok 2 dengan pemberian dosis 240 mg/kg BB, dan kelompok 3 dengan pemberian dosis 360 mg/kg BB. Kadar serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT), serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT), dan bilirubin diukur dengan spektrofotometer UV pada panjang gelombang 254 nm dan 366 nm, kemudian dilakukan pengamatan histopatologi. Hasil penelitian (? 0,05 dan ? 0,01) didapat bahwa dosis 1 berdasarkan penurunan kadar SGPT, SGOT, bilirubin terhadap kelompok kontrol negatif secara berturut-turut adalah 163.06 IU/L, 245.34 IU/L dan 3.65 mg/dl serta persentase peningkatan aktivitas antihepatotoksiknya adalah 79.13%, 76.5% dan 67.8%. Pada dosis 2, besarnya aktivitas antihepatotoksik berdasarkan penurunan kadar SGPT, SGOT, dan bilirubin secara berturut-turut adalah 82.26 IU/L, 175.55 IU/I, dan 2.89 mg/dl, serta persentase peningkatan aktivitas antihepatotoksiknya adalah 39.92%, 54.74%, dan 53.82%. Pada dosis 3 besarnya aktivitas antihepatotoksik berdasarkan penurunan kadar SGPT, SGOT dan bilirubin secara berturut-turut adalah 80.6 IU/L, 152.3 IU/L dan 1.86 mg/dl, serta peningkatan antihepatotoksik adalah 39.11%, 47.49%, dan 34.64%. Dosis terbaik yang mempunyai aktivitas antihepatotoksik adalah pada dosis 120 mg/kg BB. Berdasarkan hasil kromatografi lapis tipis dapat disimpulkan bahwa zat berkhasiat ekstrak etanol herba meniran masih terdapat pada sediaan tablet setelah melalui tahapan formulasi, pada kromatografi lapis tipis ekstrak etanol herba meniran diperoleh 5 bercak, yang diperkirakan menjasi senyawa penanda adalah bercak ke-2 yang memiliki Rf 0,425. Pada pengamatan histopatologi hati tikus menunjukkan jaringan yg mengalami kerusakan sedang ditunjukkan pada pemberian dosis 360 mg/kg BB, kerusakan ringan pada dosis 240 mg/kg BB, dan jaringan yang normal pada pemberian 120 mg/kg BB.
Kata kunci: antihepatotoksik, tablet, Phyllantus niruri L. -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






