Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

Toksisitas Subkronis Ekstrak Etanol Herba Meniran (Phyllantus niruri L.) Pada Tikus


Berdasarkan penelitian sebelumnya, telah terbukti bahwa ekstrak etanol meniran (Phyllantus niruri L.) memiliki aktivitas sebagai antihepatotoksik. ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01021100900072Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Farmasi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    2445
    Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : .,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    2445
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    NULL
    Subyek

    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Berdasarkan penelitian sebelumnya, telah terbukti bahwa ekstrak etanol meniran (Phyllantus niruri L.) memiliki aktivitas sebagai antihepatotoksik. Biasanya masyarakat mengkonsumsi obat bahan alam dalam jangka waktu yang lama. Suatu tanaman perlu diuji keamanannya terlebih dahulu agar dapat dijadikan sebagai obat herbal terstandar. Telah dilakukan pengujian toksisitas subkronik ekstrak etanol meniran pada tikus galur Wistar, dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya efek toksik dengan melihat perubahan yang terjadi pada parameter biokimia urin dan darah, indeks, fungsi dan histopatologi organ otak, jantung, paru-paru, limpa, hati, ginjal, testis (pada tikus jantan) dan ovarium (pada tikus betina) setelah penggunaan ekstrak etanol meniran dalam jangka waktu yang lama. Ekstrak etanol meniran diberikan pada dosis 1000 mg/kg BB secara oral sekali sehari selama 90 hari pada hewan uji. Secara umum, hasil penelitian tidak menimbulkan efek toksik yang berarti. Secara statistik, menunjukan bahwa kelompok uji dibandingkan dengan kelompok kontrol tidak memberikan perbedaan bermakna (? = 0,05) pada pemeriksaan kadar SGOT, SGPT, Bilirubin, Kreatinin kelompok uji tikus jantan serta indeks organ otak, jantung, paru-paru, limpa, hati, ginjal kelompok uji tikus jantan, testis (tikus jantan) dan ovarium (tikus betina). Pada indeks ginjal dan kadar kreatinin kelompok uji tikus betina menunjukan perbedaan bermakna. Pemeriksaan histopatologi organ otak, jantung, paru-paru, limpa, testis (tikus jantan) dan ovarium (tikus betina) tidak menunjukan adanya kerusakan, sedangkan pada organ hati dan ginjal (pada tikus uji betina) menunjukan adanya perubahan kearah kerusakan ringan. Perubahan pada organ hati yaitu sinusoid tidak teratur, vena sentralis menyempit, hepatosit tidak teratur, dan sel Kupffer bertambah banyak. Begitu juga pada pemeriksaan histopatologi organ ginjal pada tikus uji betina menunjukkan adanya perubahan ke arah kerusakan ringan berupa pembesaran glomerulus dan penyempitan ruang Bowman.

    Kata kunci : subkronis, Phyllantus niruri L.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi