Detail Cantuman

Image of BUDAYA POLITIK ELIT PART AI : 

KONFLIK PEMILIHAN ANGGOTA DPRD DI 
KABUPAl'EN BOMBANA PROPINSI SULA WESI 
TENGGARA TAHUN 2014 

THE ELITE'S POLITICAL CULTURE: 

Conflict of2014 Legislative Election in Bombana 
Southeast Sulawesi

Text  

BUDAYA POLITIK ELIT PART AI : KONFLIK PEMILIHAN ANGGOTA DPRD DI KABUPAl'EN BOMBANA PROPINSI SULA WESI TENGGARA TAHUN 2014 THE ELITE'S POLITICAL CULTURE: Conflict of2014 Legislative Election in Bombana Southeast Sulawesi


Kebudayaan dan politik menjadi hal yang saling terkait satu sama lain,
dalam setiap momen dan peristiwa yang melibatkan kedua hal tersebut, ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01003000781324.259 848 Dod b/R.17.84.1Perpustakaan Pusat (REF.17.84.1)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    324.259 848 Dod b/R.17.84.1
    Penerbit Magister Ilmu Sosial Dan Politik : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    111 hlm,;29cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    324.259 848
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Kebudayaan dan politik menjadi hal yang saling terkait satu sama lain,
    dalam setiap momen dan peristiwa yang melibatkan kedua hal tersebut, begitu
    pula dalam rangkaian kegiatan pemilu di daerah. Sistem desentralisasi membuat
    daerah dapat mengatur dengan lebih leluasa urusannya sendiri, begitu pun soal
    pemilihan kepala daerah maupun anggota DRPD nya. Di dalam tipologi
    masyarakat yang cenderung homogen, pemilihan kepala daerah dan anggota
    dewan perwakilan rakyat daerah menjadi menarik, hal ini di karenakan faktor
    budaya, adat, serta kebiasaan masyarakat tersebut bisa menjadi unsur yang
    dominan masyarakat tersebut dalam memilih kepala daerah dan wakil rakyat nya.

    Pemilihan kepala daerah maupun anggota DPRD di daerah memang rent an
    akan berbagai konflik, baik itu vertikal maupun horisontal sering kali menjadi
    masalah laten hampir di setiap penyelenggaran pilkada di daerah. Lewis Coser
    dalam bukunya The Functions Of Social Conflict ini, mengutip dan
    mengembangkan gagasan George Siminel untuk kemudian dikembangkan.
    penjelasan tentang teori konflik Simmel sebagai berikut: Simmel memandang
    pertikaian sebagai gejala yang tidak mungkin dihindari dalam masyarakat struktur
    sosial dilihatnya sebagai gejala yang mencakup berbagai proses asosiatif dan
    disosiatif yang tidak mungkin terpisahp isahkan, namun dapat dibedakan dalam
    analisa. konflik dapat merupakan proses yang bersifat instrumental dalam
    pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial. konflik dapat
    menempatican dan menjaga garis batas antara dun atau lebih kelompok. konflik
    dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan
    melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia sosial di sekelilingnya.

    Dalam penelitian kali penulis mengambil tema tentang konflik pemilihan
    anggota DPRD di kabupaten bombana. masyarakat bombana yang cenderung
    homogen secara kultur, temyata beragam dalam menanggapi pemilihan di daerah
    terutama pemilihan anggota DPRD yang penulis fokuskan. dan hasil penelitian di
    dapat, bahwa konflik dalam lingkup yang lebih kecil yakni keluarga dapat di
    jadikan sebagai pangkal konflik yang lebih luas, selanjutnya hal hii akan menjadi
    masalah laten yang sewaktu-waktu dapat timbul kembali. selanjutnya adalah
    masalah mentalitas dan kesiapan masyarakat dalam merespon sistem pemilu yang
    sekarang ini, dimana liberalisasi terjadi sehingga siapa pun dapat mencalonkan
    menjadi anggota dewan tanpa harus mempertimbangkan apakah ia kader partai
    atau orang yang telah mengabdi dan menjalani sejumlah proses kaderisasi di
    partai politik. Hal ini tentunya menimbulkan persoalan di dalam partai politik itu
    sendiri maupun dalam praktik di lapangan.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi