Detail Cantuman

Image of VALUASI EKONOMI OBYEK WISATA PANTAI (STUDI KASUS PADA KAWASAN PANTAI BARONPOK TUNGGAL, KABUPATEN GUNUNG KIDUL, PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA)

Text  

VALUASI EKONOMI OBYEK WISATA PANTAI (STUDI KASUS PADA KAWASAN PANTAI BARONPOK TUNGGAL, KABUPATEN GUNUNG KIDUL, PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA)


Kabupaten Gunung Kidul mempunyai kekayaan alam berupa pantai-pantai
yang indah dan potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    010030008327658.759 827 Diy vPerpustakaan Pusat (Reference Kls. 600 REF.12.319.10)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    658.759 827 Diy v/R.12.319.10
    Penerbit Fakaultas Ekonomi Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    viii, 78 hlm. ; ill. ; 29,5 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    658.759 827
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    Reference
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Kabupaten Gunung Kidul mempunyai kekayaan alam berupa pantai-pantai
    yang indah dan potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata
    pantai. Pantai-pantai tersebut mempunyai jumlah wisatawan yang besar,
    namun lama tinggal wisatawan atau length of stay kecil. Valuasi ekonomi
    dapat membantu kebijakan publik dalam beberapa aspek, salah satunya
    adalah dalam penentuan harga yang tepat (pricing strategy). Penelitian ini
    bertujuan untuk mengetahui nilai ekonomi kawasan Pantai Baron-Pok
    Tunggal. Metode yang digunakan adalah metode biaya perjalanan dan
    metode penilaian kontingensi. Dad hasil penelitian ini diperoIeh nilai
    ekonomi kawasan Pantai Baron- menggunakan metode biaya perjalanan
    atau travel cost method adaIah sebesar Rp 4.524.587.000,00 (4,5 miliar
    rupiah), sedangkan niIai ekonomi obyek wisata kawasan Pantai Baron-Pok
    Tunggal di Gunung Kidul menggunakan metode penilaian kontingensi atau
    contingent valuation method adalah sebesar Rp 364.003.915.000 (364
    miliar rupiah). NiIai ekonomi berdasarkan metode biaya perjalanan lebih
    kecil dibandingkan dengan nilai ekonomi berdasarkan metode peniIaian
    kontingensi. Hal ini disebabkan pengunjung tidak bersedia mengeluarkan
    biaya perjalanan yang besar ketika berwisata karena fasilitas yang kurang
    memadai. Selain itu responden bersedia membayar tiket masuk lebih mahal
    dari tarif saat ini bila pendapatan dad tiket masuk tersebut digunakan untuk
    perbaikan dan peningkatan kualitas fasilitas pendukung. Maka Pemerintah
    daerah dan pengelola obyek wisata dapat mengkaji ulang penetapan tarif
    retribusi tersebut.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi