Detail Cantuman

Image of Konflik dan Hannoni: Sipatahoenan di Bawah Tiga Pemimpin 
Redaksi, 1924-1942

Text  

Konflik dan Hannoni: Sipatahoenan di Bawah Tiga Pemimpin Redaksi, 1924-1942


Tesis ini bertujuan mendeskripsikan dinamika koran Sipatahoenan di bawah
tiga pemimpin redaksinya dan bagaimana sebuah koran partisan ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    010030008333905 Rah kPerpustakaan Pusat (Reference Kls. 300)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    905 Rah k/R.18.245.4
    Penerbit Fakultas Ilmu Budaya Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xvi, 266 hlm. ; ill. ; 29,5 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    905
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    Reference
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Tesis ini bertujuan mendeskripsikan dinamika koran Sipatahoenan di bawah
    tiga pemimpin redaksinya dan bagaimana sebuah koran partisan berbahasa Sunda
    yang juga corong organisasi kesundaan Paguyuban Pasundan dapat bersaing
    dengan koran berbahasa Belanda dan Melayu pada masa Pemerintah Kolonial
    Belanda. Bahkan dua pemimpin redaksinya dianugerahi penghargaan perintis pers
    nasional. Tesis ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari tahapan
    heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Metode ini memungkinkan peneliti
    menulis deskriptif kronologis mengenai perjalanan sejarah Sipatahoenan dan para
    pemimpin redaksinya. Tesis ini juga menggunakan teori fungsi konflik dari Lewis
    A. Coser yang tepat untuk mengungkapkan dan menganalisis bagaimana para
    editor ini mengelola konflik bagi kemajuan Sipatahoenan. Hasil kajian
    menemukan, kiprah dua pemimpin redaksi Sipatahoenan, Bakrie Soeraatmadja
    dan Mohamad Koerdie, dengan caranya masing-rnasing, memang layak
    dianugerahi gelar perintis pers nasional. Dipandang dengan kacamata Coser,
    Sipatahoenan terampil mcngelola konflik internal dan eksternal. Tekanan dari
    Pemerintah Hindia Belanda dan koran pesaingnya (out-grups), memperkuat in­
    group ikatan Sipatahoenan. Berbagai konflik ini secara positif menjadi pemicu
    Sipatahoenan untuk berkembang dan menciptakan harmoni. Namun pada zaman
    pendudukan Jepang tekanan out-group terlalu kuat dan ikatan in-group tak
    mampu menahannya. Tak lama setelah Jepang berkuasa pada tahun 1942,
    Sipatahoenan pun berhenti terbit.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi