Detail Cantuman

Image of Datif dalam bahasa jepang : kajian sintaktis dan sematis

Text  

Datif dalam bahasa jepang : kajian sintaktis dan sematis


Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan wujud nomina pada argumen
datif, kehadiran verba, peran semantis, dan kategori gramatikal dalam ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    010040007555459.6 Mad dPerpustakaan Pusat (Reference Kls. 400)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    459.6 Mad d/R.18.33.3
    Penerbit Fakultas Ilmu Budaya Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xvi, 238 hlm. ; ill. ; 29 cm.
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    459.6
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    reference
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan wujud nomina pada argumen
    datif, kehadiran verba, peran semantis, dan kategori gramatikal dalam struktur
    kalimat bahasa Jepang (BJ) secara sintaktis dan semantis. Teori-teori yang
    dipergunakan dalam kajian ini adalah teori dari Givon (2001), Kindaichi (1976),
    Tata Bahasa Kasus (Cook, 1979), Nitta (1967 & 1991), dan Sugai (2000).

    Basil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Jenis nomina yang muncul
    pada argumen datif adalah nomina konkret (gutaitekina mono) maupun nomina
    abstrak (chuushootekina mono), (2) verba-verba yang dapat memunculkan
    argumen datif dapat berupa (a) verba kontinuatif (keizoku doshi), yaitu verba
    azukeru 'menitipkan', moratta 'telah menerima', kaite sashiageta 'telah
    menuliskan', susumete kureta 'telah memberi menyarankan', okutte itadaita 'te1ah
    menerima kiriman', karita 'telah meminjam', todoketa 'telah melaporkan',
    arukaseta 'te1ah menyebabkan berjalan', wataraseta 'telah menyebabkan
    menyeberang', yomaseta ' telah menyebabkan membaca', dan (b) verba pungtual
    (shunkan doushi), yaitu verba katteshimatta 'sengaja membelikan', shokai shita
    'telah memperkenalkan', kinshi shita 'telah melarang' , dan kubaru 'akan
    membagikan', (3) peran semantis pada argumen datif dalam struktur kalimat
    bahasa Jepang dapat berupa (a) peran agentif yang menyatakan makna sumber
    atau asal, (b) peran benefaktif yang berupa makna pasien (untuk), sasaran
    (kepada), (c) peran pengalami (experiencer), (d) peran objektif, serta (4) kategori
    gramatikal pada argumen datif dapat berupa aspek perfektif (kanryousou) dan
    aspek kontinuatif (keizokusou).

    Salah satu ciri khas BJ dan ditemukan dalam data adalah struktur kalimat
    pasif. Penggunaan pemarkah ni dan bukan menyatakan argumen datif, yang
    bermakna pelaku (oleh). Hal itu diasumsikan dapat terjadi karena verba bentuk
    pasif BJ, secara semantis makna inhern verba yang muncul menunjukkan
    ketidaknyamanan, kesedihan atau mengganggu perasaan imeiwaku). Oleh karena
    itu, bila verba tersebut diubah ke dalam bentuk kalimat aktif, makna gramatikal
    kalimat tersebut menjadi berbeda. Jika pemarkah ni dalam struktur kalimat pasif
    Bl menggunakan pemarkah 0 akusatif atau nominatif ga, akan mengubah makna
    dan menjadi tidak berterima dalam BJ. Oleh karena itu padanan bahasa Indonesia

    pun harus disesuaikan dengan konteks kalimat yang ada. .
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi