Detail Cantuman

Image of Gamelan perang di Bali (Abad ke-10 sampai abad ke 21)

Text  

Gamelan perang di Bali (Abad ke-10 sampai abad ke 21)


ABSTRAK

Judul Disertasi

Subjek

GAMELAN PERANG DI BALl (ABAD KE-10 SAMPAI
AWAL ABAD KE-21)

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    010040007552900.598 62 Hen gPerpustakaan Pusat (Reference Kls. 400)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    900.598 62 Hen g/R.18.45.3
    Penerbit Fakultas Ilmu Budaya Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xxiv, 511 hlm. ; ill.; 29 cm.
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    900.598 62
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    reference
    Pernyataan Tanggungjawab
  • ABSTRAK

    Judul Disertasi

    Subjek

    GAMELAN PERANG DI BALl (ABAD KE-10 SAMPAI
    AWAL ABAD KE-21)

    1. Sejarah

    2. Bali

    3. Gamelan

    4. Perang

    Abstrak

    Disertasi ini berisi kajian tentang gamelan perang di Bali, abad ke-IO sampai
    awal abad ke-21. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah: pertama
    bagaimana asal-usul gamelan perang di Bali, kedua mengapa terjadi perubahan nama
    dari mredangga, bedug, dan kemudian menjadi tambur, ketiga apakah instrumentasi
    gamelan Mredangga sama dengan instrumentasi gamelan Bheri, dan keempat bagaimana
    proses perjalanan gamelan Banjuran menjadi Adi Merdangga.

    Metode yang dipergunakan dalam kajian ini adalah metode sejarah, yang
    dilakukan dengan empat tahapan kerja yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan
    historiografi. Untuk menganalisa perubahan-perubahan yang terjadi, antara lain
    menggunakan teori perubahan perubahan yang dicetuskan oleh Claire Holt dimana
    perubahan dipicu oleh faktor eksternal. Selanjutnya perubahan dari John E. Keamer
    yang menyebutkan bahwa inovasi bisa berasal dari salah seorang anggota kelompok
    masyarakat yang bersangkutan (atau senimannya), maka dengan demikian konsep
    perubahan taksu dan jengah pada masyarakat Bali diterapkan dalam membedah
    perubahan yang terjadi pada gamelan perang. Untuk melihat perkembangan dan
    penyebarannya dipergunakan teori dari Bourdieu tentang habitus dimana kebiasaan
    merupakan pusat tindakan. praktik-praktik merupakan kegiatan reflektif dan produktif.

    Perkembangan gamelan perang di Bali tidak terlepas dari tonggak-tonggak
    peristiwa sejarah di Bali. Gamelan Perang di Bali pada dewasa ini ada yang dibawa
    dari luar dan ada yang berkembang asli dari Bali sendiri. Mredangga adalah instrumen
    ataupun gamelan yang dibawa dari luar Bali dan memang berfungsi sebagai gamelan
    untuk memberikan semangat dalam peperangan, kemudian berkembang menjadi
    Bedug, Tambur, dan terakhir menjadi gamelan Ketug Bumi. Sedangkan gameJan
    perang asli dari Bali adalah abanjuran atau banjuran, ganjuran, kalaganjur,
    balaganjur dan kemudian berkembang menjadi Adi Merdangga. Tidak satupun kata
    balaganjur tersurat dalam naskah-naskah kuna, dan dipergunakan dalam peperangan,
    namum dari berbagai tulisan seniman dan cendikiawan karawitan Bali yang
    mengartikan bahwa balaganjur adalah gamelan yang dipergunakan untuk mengiringi
    tentara yang sedang berbaris, maka dimasukanlah balaganjur ke dalam gamelan
    perang. Perkembangan gamelan perang di Bali pada awal abad 21 ini tentunya
    dihadapkan pada persoalan nilai-nilai filsafat, etika, estetika, dan teknik berkesenian
    dalam hubungannya dengan permasalahan sosial, budaya, pariwisata, dan agama.
    Maka gamelan perang telah menjelma menjadi gamelan dengan nuansa yang barn.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi