Text
Peran atorvastatin sebagai protektor otak pada pasien cedera otak traumatik sedang ditinjau dari kadar tissue plasminogen activator, tumor necrosis factor alpha dan laju perbaikan skor gcs
Cedera otak traumatik (COT) masih menjadi masalah morbiditas dan
mortalitas utama -di dunia. Pasca COT, pasien yang selamat sering mengalami ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 010040007503 610 Ken p Perpustakaan Pusat (Reference Kls. 600) Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil 610 Ken p/R.13.20.1Penerbit Kedokteran Unpad : Bandung., 2017 Deskripsi Fisik xxi, 127 hlm. ; il. ; 29 cm.Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 610Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik ReferencePernyataan Tanggungjawab Kenanga Marwan Sikumbang -
Cedera otak traumatik (COT) masih menjadi masalah morbiditas dan
mortalitas utama -di dunia. Pasca COT, pasien yang selamat sering mengalami
dengan gangguan kognitif dan intelektual, perubahan mood , tingkah laku dan
Sindrom Distress Pascatrauma (SDPT). Prioritas penanganan adalah mencegah
berkembangnya cedera otak sekunder yang dapat memperburuk outcome dengan
cara melakukan proteksi otak. Salah satu teknik proteksi otak yaitu dengan
menggunakan obat yang memiliki efek proteksi otak. Statin memiliki efek
pleiotropik yang bersifat kolesterol-independen dengan efek yang potensial dalam
tata laksana gangguan neurologis diantaranya mengurangi efek trombosis dan
kaskade koagulasi dan antiinflamasi.Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat
pengaruh pemberian atorvastatin 40 mg per oral terhadap kadar tP A dan TNF -a,
serta laju perbaikan skor GCS pasien COT sedang. Metode: desain penelitian ini
adalah uji klinis acak buta tunggal menggunakan atorvastatin 40 mg per oral via
sonde se lama 7 hari. Sebanyak 37 pasien COT sedang yang menjalani
pembedahan dan sesuai kriteria inklusi diikutkan dalam penelitian dan dilakukan
randomisasi, Tiga pasien dikeluarkan dari penelitian, karena gagal dalam proses
pengambilan darah. Pengambilan sampel darah dilakukan sebanyak 3 kali: ° jam,
24 jam dan 72 jam pasca pemberian obat untuk diperiksa kadar tP A antigen, tP A
activity dan TNF-a. Untuk menilai laju perbaikan skor GCS dilakukan observasi
GCS selama 7 hari. Hasil penelitian ini dianalisa dengan uji two way repeated
measure ANOVA: kadar tPA antigen awal tidak berbeda bermakna antara kedua
kelompok (16,45 (4,32) ng/mL vs. 20,95 (4,32) ng/mL, p=0,467), begitu pula
pada pengukuran 24 jam (16,97 (4,79) vs. 21,40 (4,79), p=0,519). Pada
pengukuran 72 jam juga tidak berbeda bermakna (20,21 (4,60) vs. 15,78 «4,60),
p=0,50 1). Kadar tP A activity awal tidak berbeda bermakna antara kedua
kelompok (0,74 (0,20; 9,87) ng/mL vs. 1,22 (0,20; 23,51) ng/mL, p=0,371). Kadar
24 jam dan 72 jam juga tidak berbeda bermakna (0,84 (0,20; 27,030) ng/mL vs.
0,79 (0,20; 31,62) ng/mL, p=0,929) dan (1,01 (0,20; 11,20) ng/mL vs. 0,57 (0,20;
26,49) ng/mL, p=0,261). Pengukuran awal kadar TNF-a kedua kelompok tidak
berbeda bermakna (7,01 (0,77) pg/mL vs. 5,55 (0,77) pg/mL, p=0,188). Demikian
juga pada pengukuran 24 jam dan 72 jam (6,37 (0,72) pg/mL vs 5,47 (0,72)
pg/mL, p=0,380) dan (6,49 (0,89) pg/mL vs. 6,17 (0,84) pg/mL, p=0,792). Pada
Kurva Kaplan-Meier terlihat median survival kelompok atorvastatin mencapai
skor GCS 15 pada 1 hari pasca pemberian obat dan pada hari ke 5 semua subyek
sudah mencapai GCS 15, sementara pada kelompok plasebo median survival
dicapai pada hari ke 3 dan tidak semua subyek mencapai skor GCS 15 hingga 7
hari pengamatan. Hal ini bermakna secara statistik dengan nilai p = 0,001.
Simpulan dari penelitian ini, atorvastatin tidak meningkatkan kadar tP A,
atorvastatin tidak menurunkan kadar TNF -a. Atorvastatin terbukti mempercepat
laju perbaikan skor GCS pasien COT sedang. -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






