Text
SENYAWA TRITERPENOID DAN STEROID DARI KULIT BATANG Aglaia argentea DAN Aglaia elliptica SERTA HUBUNGAN STRUKTUR KIMIA DAN AKTIVITAS SITOTOKSIKNYA TERHADAP SEL MURIN LEUKEMIA P-388
Triterpenoid dan steroid merupakan senyawa metabolit sekunder yang paling
banyak terdapat di alam diantara senyawa metabolit sekunder ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 010030007484 547 Kin s Perpustakaan Pusat (Reference Kls. 500) Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil 547 Kin s/R.14.27.1Penerbit Fakultas MIPA UNPAD : Bandung., 2017 Deskripsi Fisik xxiv, 183 hlm. ; ill.; 29 cm.Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 547Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik ReferencePernyataan Tanggungjawab Kindi Farabi -
Triterpenoid dan steroid merupakan senyawa metabolit sekunder yang paling
banyak terdapat di alam diantara senyawa metabolit sekunder lainnya.
Diperkirakan lebih dari 35.000 triterpenoid dan steroid berada di alam. Salah
satu diantara ribuan kelompok tumbuhan sebagai sumber utama senyawa
triterpenoid dan steroid dengan aktivitas farmakologis yang menarik: adalah
tumbuhan famili Meliaceae. Genus terbesar dari famili Meliaceae adalah Aglaia.
Pada penelitian berkelanjutan kami untuk mencari senyawa antikanker dari
tumbuhan Aglaia Indonesia, ekstrak n-heksana dan etil asetat dari kulit batang A.
argentea dan A. elliptica menunjukkan aktivitas sitotoksik yang signifikan
terhadap sel murin leukemia P-388 masing-masing sebesar 26,72 dan 15,49;
serta 67,70 dan 32,69 ug/ml., Tujuan penelitian ini adalah mengisolasi serta
menentukan struktur senyawa triterpenoid dan steroid dari kulit batang A.
argentea dan A. elliptica dan menentukan aktivitas sitotoksiknya terhadap sel
murin leukemia P-388. Tahap isolasi dilakukan dengan maserasi kulit batang A.
argentea dan A elliptica menggunakan pelarut metanol hingga diperoleh ekstrak
pekat metanol dan dilanjutkan dengan partisi ekstrak metanol dengan pelarut n
heksana, etil asetat, dan n-butanol hingga diperoleh ekstrak pekatnya. Ekstrak
aktif (n-heksana dan etil asetat) kemudian dipisahkan dan dimurnikan dengan
berbagai metode kromatografi hingga diperoleh senyawa 1-15. Senyawa 1-15
diidentifikasi dan ditetapkan struktur kimianya dengan metode spektroskopi dan
perbandingan data dengan literatur dan dihasilkan dua senyawa baru yaitu suatu
tetranor-triterpenoid apotirukalan, argentinin A (3a,7a-dihidroksi-24,25,26,27-
tetranorapotirukala-14-en-23,21-olid) (8) dan suatu senyawa steroid pregnan, 2a
hidroksi-3a-metoksi-5a-pregnan (12). 13 senyawa lainnya, merupakan senyawa
yang telah dikenal, meliputi tujuh golongan triterpenoid damaran yaitu, 3-epi
kabraleahidroksilakton (1), (E)-25-hidroperoksidamar-23-en-3p,20-diol (2),
damar-24-en-3 P,20-diol (3), 20S,24S-epoksi-3a,25 -dihidroksidamaran (4), 3a
asetil-20S,24S-epoksi-25-hidroksi damaran (5), asam eiklerianat (6), dan asam
shoreat (7), enam golongan steroid stigmastan, stigmast-c-en-Sjl-ol (9), 3P
sitosteril-oleat (10), 3p-sitosterol-p-D-glukosa-6-monooleat (sitoindosida 11)
(11), 3P-D-galaktosa-sitosterol (13), 3P-D-glukosa-sitosterol (14), dan 3P-D
glukosa-stigmasterol (15). Senyawa 1-15 dievaluasi sifat sitotoksiknya terhadap
sel murin leukemia P-388 secara in vitro dan senyawa 8 (argentinin A)
menunjukkan aktivitas paling kuat dengan nilai ICso 1,27 ug/ml.. Senyawa
lainnya (1-7 dan 9-15) menunjukkan nilai yang beragam, 68,53; 5,89; 22,41;
11,03; 4,09; 5,60; 19,03; 12,43; 67,15; 55,81; 6,07; 63,07; >100; dan 48,62
ug/ml.. Aktivitas sitotoksik dari senyawa triterpenoid dan steroid dipengaruhi
oleh adanya gugus asetil, ikatan rangkap, posisi gugus metil, stereokimia karbon
asimetri, dan jenis gugus gula yang terikat. -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






