Detail Cantuman

Image of Deskripsi Pola Fisur Oklusal Gigi Molar Pada Kerangka Manusia Pawon

Skripsi  

Deskripsi Pola Fisur Oklusal Gigi Molar Pada Kerangka Manusia Pawon


Pengamatan terhadap pola fisur oklusal dan jumlah bonjol pada gigi molar banyak digunakan untuk mengidentifikasi suatu individu untuk kemudian ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    For1-6868 614.1 Car DJatinangor (forensik)Tersedia namun tidak untuk dipinjamkan - No Loan
  • Perpustakaan
    Fakultas Kedokteran Gigi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    614.1 Car D
    Penerbit FKG Unpad : .,
    Deskripsi Fisik
    xiii, 72hlm; Ilus; 20,1x30cm; hardcover
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    160110120078
    Klasifikasi
    Forensik
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Pengamatan terhadap pola fisur oklusal dan jumlah bonjol pada gigi molar banyak digunakan untuk mengidentifikasi suatu individu untuk kemudian mengelompokkannya pada ras tertentu. Manusia pawon merupakan kerangka manusia prasejarah yang ditemukan di kawasan Gua Pawon, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung yang memiliki pertanggalan 9525-5660 BP dan dan dilihat dari ciri-ciri fisiknya, diduga berasal dari ras Mongoloid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola fisur oklusal gigi molar yang dominan pada kerangka manusia pawon.
    Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan sampelnya adalah 5 rangka Manusia Pawon dengan jumlah 31 gigi molar. Identifikasi pola fisur dilakukan dengan penelusuran menggunakan program Free Trial Map Info Pro v.15.2, kemudian menggolongkannya dan ditentukan persentase yang dominan.
    Hasil penelitian ini menunjukan untuk rahang atas, M1 menunjukan pola 4 sebanyak 50%, M2 berpola 4- sebanyak 40% dan pola 4 sebanyak 20%, M3 berpola 3 sebanyak 66% dan 3+ sebanyak 33%. Sedangkan untuk rahang bawah, M1 menunjukan pola Y4 sebanyak 50% dan +5 sebanyak 25%, M2 berpola Y4 sebanyak 28,5% dan +5 sebanyak 28,5%, M3 berpola Y5 sebanyak 33,3% dan +4 sebanyak 16,7%. Sebagian objek tidak dapat diidentifikasi karena permukaan oklusal yang atrisi cukup parah.
    Hasilnya, pada rahang atas, pola dominan pada M1 adalah pola 4, M2 adalah pola 4-, dan M3 adalah pola 3. Sedangkan untuk rahang bawah, pola dominan yang didapat untuk M1 adalah Y4, M2 berpola Y4 dan +5, dan M3 berpola Y5. Beberapa dari pola ini mengacu ke pola pada ras Mongoloid.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi