Detail Cantuman

Image of NUKLIR SEBAGAI ALAT DIPLOMASI HUBUNGAN INTERNASIONAL DALAM PERSPEKTIF NEOREALISME STUDI KASUS KOREA UTARA-AMERIKA SERIKAT

Text  

NUKLIR SEBAGAI ALAT DIPLOMASI HUBUNGAN INTERNASIONAL DALAM PERSPEKTIF NEOREALISME STUDI KASUS KOREA UTARA-AMERIKA SERIKAT


Pengembangan nuklir di Korea' Utara terus berlangsung selama tiga periode
kepemimpinan, Kim Il Sung, Kim long II, serta Kim long Un. Dalam ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    010030007893327 And n/R.17.86.3Perpustakaan Pusat (REF.86.3)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    327 And n/R.17.86.3
    Penerbit Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xiii, 109 hlm. ; il. ; 29 cm.
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    327 And n
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    Reference
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Pengembangan nuklir di Korea' Utara terus berlangsung selama tiga periode
    kepemimpinan, Kim Il Sung, Kim long II, serta Kim long Un. Dalam
    perkembangannya, selain untuk metode self defense, Korea Utara memanfaatkan
    nuklir untuk tujuan diplomasi. Sebagaimana yang terjadi dengan Amerika Serikat.
    Korea Utara mampu mendapatkan berbagai keuntungan berupa bantuan-bantuan
    ekonomi dari Amerika Serikat melalui diplomasi nuklirnya. Hal ini dilakukan
    oleh Korea Utara untuk menghindari provokasi militer dan memiliki nilai unggul
    dalam negosiasi.

    Amerika Serikat kemudian tidak serta merta bertindak selalu lunak terhadap
    Korea Utara. Gaya One Track Diplomacy, yakni diplomasi langsung dengan
    kepala negara, dilakukan Amerika Serikat untuk meredam upaya-upaya uji coba
    nuklir yang terjadi.

    Penelitian ini kemudian akan mecoba bagaimana nuklir sebagai WMD digunakan
    oleh Korea Utara sebagai tools diplomasi terhadap Amerika Serikat untuk
    mencapai kepentingan nasionalnya. Adapun teori yang digunakan adalah neo
    realisme strategis, dengan konsep diplomasi dan security dilemma sebagai
    pendukung.

    Dalarn kesimpulan disebutkan bahwa diplomasi 1111 berjalan dengan
    memanfaatkan ketakutan Amerika Serikat atas proliferasi nuklir dimanfaatkan
    oleh Korea Utara untuk meraih bantuan dan kesepakatan terkait kepentngan
    ekonomi dan keamanan di negerinya.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi