Detail Cantuman

Image of Tes menggambar orang (DAP TEST) : Alat bantu psikodiagnostik untuk diagnosis gangguan kecemasan sosial

Text  

Tes menggambar orang (DAP TEST) : Alat bantu psikodiagnostik untuk diagnosis gangguan kecemasan sosial


TES MENGGAMBAR ORANG (DAP TEST): ALAT BANTU
PSIKODIAGNOSTIKA UNTUK DIAGNOSIS GANGGUAN KECEMASAN
SOSIAL

Devi Aryani, ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    010030007768616.89 Dev t/R.19.248.2Perpustakaan Pusat (REF.17.248.2)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    616.89 Dev t/R.19.248.2
    Penerbit Fakultas Psikolog Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xii, 117 hlm. ; il. ; 29 cm.
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    616.89 Dev t
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    Reference
    Pernyataan Tanggungjawab
  • TES MENGGAMBAR ORANG (DAP TEST): ALAT BANTU
    PSIKODIAGNOSTIKA UNTUK DIAGNOSIS GANGGUAN KECEMASAN
    SOSIAL

    Devi Aryani, S.Psi., Dr.Achmad Djunaidi, M.Si., Prof. Dr.Wilis Srisayekti

    Kecemasan sosial adalah masalah psikologis ketiga yang paling banyak
    teIjadi di dunia termasuk Indonesia. Sekitar 15.8% dari populasi di Indonesia
    pernah mengalami kecemasan sosial. Ada banyak cara yang dapat dilakukan
    untuk mendeteksi kecemasan sosial, namun merujuk kepada DSM V, diagnosis
    keeemasan sosial hanya boleh diberikan oleh ahli atau profesional. Salah satu
    instrumen psikologi yang paling se ring dan cukup mudah digunakan oleh ahli dan
    profesional psikologi adalah Draw a Person= Test. Namun hingga saar ini masih
    belum ada penelitian yang dapat membuktikan karakteristik perbedaan hasil
    gambar individu yang normal dengan yang memiliki kecemasan sosial yang tinggi.

    Penelitian ini bertujuan untuk menemukan karakteristik hasil gambar
    individu dengan kecemasan sosial dibandingkan dengan hasil gambar individu
    tanpa kecemasan sosial. Partisipan terdiri dari J 08 Jaki-Jaki dan 2J 5 perempuan
    dengan usia antara 15-17 tahun. Partisipan diperoleh dari dua SMA di Bandung.
    Untuk pengelompokkan partisipan berdasarkan tingkat kecemasan sosialnya
    digunakan kuesioner LSAS yang terdiri dari 24 item yang mengukur tingkat
    keeemasan sosial, simptom rasa takut (fear) dan simptom menghindar (avoidance).
    Sementara DAP dengan merujuk pada Machover (1965) dilakukan dengan
    melihat aspek struktural dan aspek kontennya. Aspek struktural berdasarkan
    penempatan dan ukuran figur. Sedangkan aspek konten berdasarkan ada tidaknya
    aktivitas, ekspresi grafts (shading, arsir), konten sosiai (tangan, kaki, pupil),
    aksesoris pada figur (saku, kancing), dll.

    Partisipan dikelompokkan pada kelompok "Non-Anxiety Control ", "High­
    Social Anxiety" and "Social Anxiety Disorder". Hasil uji beda Kruskal wallis dan
    t-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada setiap kelompok. Dari aspek
    penggunaan ruang, semakin kecil jarak dari tepi kiri kertas ke figur bernubungan
    dengan tingkat kecemasan sosial yang lebih tinggi. Simptom rasa takut dapat
    diindikasikan dari ukuran lebar leher yang semakin kecil, lebar kaki yang semakin
    keeil dan penggunaan aksesoris pada figur. Sedangkan simptom menghindar
    diindikasikan dari jarak yang semakin besar dari tepi atas kertas ke figur, jarak
    tangan ke badan yang semakin kecil, dan adanya ekspresi grafts berupa arsir.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi