Detail Cantuman

Image of Pengelolaan lingkungan hidup sensitive based environmental management (GSBEM) di pedesaan Jawa Barat : analisis ekologi politik kritis

Text  

Pengelolaan lingkungan hidup sensitive based environmental management (GSBEM) di pedesaan Jawa Barat : analisis ekologi politik kritis


Sensitif gender merupakan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan
resiliensi alam-budaya melalui suatu mekanisme adaptif masyarakat berupa ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    010030007757577 Alf p/R.25.234.1Perpustakaan Pusat (REF.234.1)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    577 Alp r/R.25.234.1
    Penerbit Pps Lingkungan Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    x, 168 hlm. ; il. ; 29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    577 Alp r
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    Reference
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Sensitif gender merupakan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan
    resiliensi alam-budaya melalui suatu mekanisme adaptif masyarakat berupa
    pembagian peran, fungsi dan tanggung jawab antara perempuan dan laki-Iaki
    dalam pengelolaan lingkungan hidupnya. Upaya ini menjadi pertahanan suatu
    sistem sosioekologikal dalam menghadapi pennasalahan subordinasi dan
    marjinalisasi yang merupakan fokus pennasalahan dari ekologi politik.

    Digunakannya paradigma kritis dalam penelitian ini, menyebabkan
    pengkajian aspek politik menjadi lebih komprehensif dalam lingkup gender. Hal
    tersebut penting untuk dilakukan dalam memahami kenyataan utama gender pada
    masyarakat yang dikonstruksi secara sosiokultural dalam berbagai skala ruang dan
    waktu sebagai suatu mekanisme adaptif masyarakat. Dimana dalam konstruksinya
    tersebut terdapat konsekuensi untuk dapat mengakomodir semua kepentingan
    masyarakat (perempuan dan laki-laki) dalam pengelolaan sumber daya dan
    lingkungan hidupnya. Akomodasi kepentingan yang sensitif gender tidak
    ditekankan pada keadilan gender namun pada kesetaraan gender.

    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh
    masing-masing individu manusia Desa Cikurubuk merupakan pondasi dari
    konstruksi sosiokultural kenyataan gender pada masyarakatnya. Pengetahuan
    tersebut merupakan hasil intersectionality antara identitas indegeneity, ability/
    disability, kelas/ struktur sosial, umur dan sex/ jenis kelamin yang mempengaruhi
    pemaknaan gender pada rnasing-masing individu manusianya. Pengetahuan
    tentang makna gender inilah yang membuat masing-masing individu manusia
    mampu menentukan identitas dirinya dalam masyarakatnya sehingga
    mempengaruhi kekuatan negosiasi antar aktor perempuan dan laki-laki (gender
    politics) dalam pengelolaan lingkungan hidupnya.

    Ditemukan pada kasus masyarakat Desa Cikurubuk bahwa pemaknaan
    gender yang menjadi dasar pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup
    dipengaruhi oleh identitas indegeneity sebesar 45% melalui pembagian tanggung
    jawab sebagai konsekuensi atas dimilikinya local area belonging; identitas
    ability/ disability sebesar 32% melalui pembagian kerja (peran dan fungsi) sebagai
    konsekuensi atas dimilikinya kekuatan fisik, wawasan dan skill! keterampilan;
    identitas kelas/ struktur sosial sebesar 12% melalui pembagian kontrol sebagai
    konsekuensi atas dimilikinya properti/ hak kepemilikan sumber daya alam; dan
    identitas umur sebesar 11 % melalui pembagian luasnya akses, intensitas aktivitas
    dan alokasi waktu sebagai konsekuensi atas siklus produktivitas hidupnya.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi