Detail Cantuman

Image of Kerjasama antarlembaga dalam penanggulangan HIV-AIDS di Bali : sebuah perspektif struktural fungsional

Text  

Kerjasama antarlembaga dalam penanggulangan HIV-AIDS di Bali : sebuah perspektif struktural fungsional


Kerjasama antarlembaga dalam penanggulangan HIV-AIDS di Bali
merupakan salah satu respon yang dilakukan untuk mengendalikan penyebaran

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    010030007758301 Mad k/R.17.8.1Perpustakaan Pusat (REf.17.8.1)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    301 Mad k/R.17.8.1
    Penerbit Fisip Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xx, 126 hlm. ; il. ; 29 cm.
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    301 Mad k
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    Reference
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Kerjasama antarlembaga dalam penanggulangan HIV-AIDS di Bali
    merupakan salah satu respon yang dilakukan untuk mengendalikan penyebaran
    epidemi yang semakin meluas. Kerjasama dapat terjalin antara instansi
    pemerintah, organisasi non pemerintah, dan komunitas masyarakat. Penelitian ini
    berfokus pada kerjasama antara KP A Provinsi Bali, Dinas Kesehatan, LSM
    Persatuan Keluarga Berencana Indonesia Daerah Bali, dan Majelis Utama Desa

    Pakraman Bali, dalam upaya penanggulangan HIV -AIDS yang

    diimplementasikan pada tindakan pencegahan, pengobatan, dan

    pendampinganldukungan. Penelitian ini berupaya untuk menganalisa kerjasama
    antarlembaga tersebut dan mengetahui hambatan, tantangan, serta aspek
    pendukungnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yang
    disajikan dalam bentuk deskriptif dengan pemaparan data yang sistematis, dan
    menggunakan teori sistem sosial sebagai alat analisis .

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerjasarna antarlembaga dalam
    penanggulangan HIV -AIDS di Bali berlangsung secara koordinatif. Perbedaan
    sistem kebudayaan dan sistem kepribadian yang dimiliki Iembaga-lembaga
    terkait, tidak menghambat jalannya kerjasama. Melalui proses intemalisasi dan
    institusionalisasi kedua sistem tersebut mendukung terciptanya sistem sosial
    dalam penanggulangan HIV -AIDS di Bali. Sistem sosial tersebut terdiri dari
    proses pembagian kerja, upaya menanggulangi konflik, hingga menyamakan
    tujuan lembaga. Pada kerjasama tersebut yang menjadi hambatan dan tantangan
    yakni ego sektoral, permasalahan sumber dana, persepsi pemimpin yang berbeda,
    dan adanya peraturan yang kontra produktif. Hambatan dan tantangan tersebut
    dapat diantisipasi dengan adanya aspek pendukung, yakni peraturan atau regulasi
    yang jelas, membangun kepercayaan antarlembaga, memiliki kesamaan tujuan,
    menjalin komunikasi, melakukan proses adaptasi, dan memperhatikan kearifan
    lokal.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi