Text
Ternate Dari Ibukota Karesidenan Hingga Ibukota Swatantra (1866-1958)
Tesis ini berjudul Ternate Dari lbukota Karesidenan Hingga lbukota Swatantra
(1866-1958).Permasalahan yang akan dikaji dalam tesis ini adalah ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 010030007740 900 Rus t/R.18.245.1 Perpustakaan Pusat (REF.245.1) Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil t900 Rus /R.18.245.1Penerbit Fakultas Ilmu Budaya Unpad : Bandung., 2016 Deskripsi Fisik xxvii, 319 hlm. ; ill. ; 29 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi t900 RusTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik ReferensiPernyataan Tanggungjawab Rusli M .Said -
Tesis ini berjudul Ternate Dari lbukota Karesidenan Hingga lbukota Swatantra
(1866-1958).Permasalahan yang akan dikaji dalam tesis ini adalah sebagai berikut:
Pertama, Bagaimana dinamika pemerintahan, politik dan sosial budaya kota Ternate
zaman Belanda. Kedua, Bagaimana dinamika perubahan setelah Jepang menduduki kota
Ternate. Ketiga, Bagaimana dinamika pemerintahan, politik dan sosial budaya kota
Ternate zaman kemerdekaan Republik Indonesia.
Untuk mendapatkan jawaban atas permasalahan-permasalahan tersebut, maka
metode yang digunakan adalah metode sejarah yang terdiri dari empat tahap, yaitu
heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Dalam menganalisis Ternate dari ibukota
Karesidenan hingga ibukota Swatantra, digunakan konsep kota dan teori kota, untuk
menganalisis kota Ternate zaman Belanda dan kota Ternate zaman Jepang. Konsep
sistem politik digunakan untuk menganalisis kota Ternate di zaman kemerdekaan
Republik Indonesia.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kota Ternate dibagi atas tiga zaman,
yaitu kota Ternate zaman Belanda (1866-1942), kota Ternate zaman Jepang (1942-1945)
dan kota Ternate zaman Kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1948). Kota Ternate
zaman Belanda, terdapat dualisme pemerintahan, yaitu pemerintahan kesultanan Ternate
dan pemerintahan Belanda. Dalam kehidupan politik, kebijakan Belanda mengangkat
Sultan Muhammad Ayanhar dan pemberJakuan swatantra. Selain itu, Belanda
menerapkan sistem pajak kepada penduduk inlanders di wilayah Jailolo dan sekitarnya,
berdampak pada situasi politik kota Ternate menjadi tidak aman karena terbunuhnya
kontrolir Agerbeek dan pengasingan Sultan Muhammad Usman Syah ke Bandung. Dan
kehidupan sosial budaya, Belanda membangun sekolah di wilayah karesidenan Ternate
serta memberi izin kepada pemimpin pribumi bersama warganya untuk melakukan
upacara pengangkatan Ngofa Majojo dan upacara kematian sultan. Kota Ternate di
zaman Jepang mengalami perubahan, yaitu semua system pemerintahan yang digunakan
Belanda dihapus dan digantikan dengan sistem pemerintahan Jepang. Kota Ternate di
zaman Kemerdekaan Republik Indonesia, kembali dijadikan sebagai ibukota karesidenan
dari tahun 1945 hingga 1958 dan tahun 1958 status kota Ternate mengalami perubahan
menjadi ibukota Swatantra. Dari tahun tersebut, pemerintahannya dipimpin oleh Residen
Iskandar Muhammad Djabir Sjah, Residen Zainal Abidin Sjah dan Residen Dede
Muchsin Usman Sjah. Dalam kehidupan politik, terdapat partai yang sikap politiknya pro
kepada Republik dan partai yang sikap politiknya pro kepada Belanda. Kehidupan sosial
budaya, residen Djabir Sjah mengirimkan putera puteri Maluku Utara mengikuti
pendidikan di Pulau Sulawesi dan Pulau Jawa serta mengadakan upacara pengangkatan
Sultan Mudaffar Sjah.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






