Detail Cantuman

Image of Model Pemanenan Air Hujan untuk Pengembangan Komplek Perumahan di Wilayah Kab. Bandung

 

Model Pemanenan Air Hujan untuk Pengembangan Komplek Perumahan di Wilayah Kab. Bandung


Peningkatan kebutuhan air di tengah permasalahan air tanah akibat
ekploitasi yang berlebihan dan penurunan kualitas air permukaan akibat

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001140700282333.7 Sun m/R.25.146Perpustakaan Pusat (REF.146)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    333.7 Sun m
    Penerbit Magister Ilmu Lingkungan : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xiv,;169 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    333.7 Sun m
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Peningkatan kebutuhan air di tengah permasalahan air tanah akibat
    ekploitasi yang berlebihan dan penurunan kualitas air permukaan akibat
    peningkatan pencemaran akan mempengaruhi sistem pasokan air di masa yang
    akan datang. Peningkatan lapisan tanah kedap air akibat maraknya pembangunan
    perumahan pada akhirnya akan menyebabkan masalah pasokan air semakin parah
    dan berpotensi meningkatkan kelangkaan air. Pemanenan air hujan (P AH) banyak
    dipraktikkan di seluruh dunia sebagai solusi berkelanjutan dari permasalahan­
    pennasalahan air tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk merancang model sistem
    PAH dan mensimulasikan kinerja hidrologi dan ekonominya yang dapat
    membantu pengambilan keputusan dalam menerapkan teknologi P AH untuk
    pengembangan perumahan di Kabupaten Bandung. Perancangan model P AH
    dalam penelitian ini dilakukan dengan menganalisis data primer dan data sekunder
    yang terdiri dari curah hujan bulanan, luas atap, kebutuhan air dan ukuran bak
    penampung berdasarkan prinsip neraca massa. Kinerja hidrologi model RWH
    disimulasikan dan diprediksi dengan menggunakan konsep reliabilitas, sedangkan
    kinerja ekonomi disimulasikan dan diprediksi dengan menggunakan konsep NPV
    dan payback period. Sementara i tu, pandangan atau pendapat masyarakat terhadap
    penggunaan air hujan dan praktik pemanenan air huja secara umum diteliti dengan
    menggunakan kuesioner.

    Berdasarkan analisis data, ukuran bak penampung sistem P AH rumah tipe
    29 diprediksi sebesar 23 m3 dan ukuran ini dapat menghasilkan reliabilitas air
    sebesar 91,72 % per tahun. Ukuran bak penampung sistem PAH rumah tipe 36
    diprediksi sebesar 25 m3 dan ukuran ini dapat menghasilkan reliabilitas air sebesar
    88,70 % per tahun. Ukuran bak penampung sistem PAH rumah tipe 48 diprediksi
    sebesar 27 m3 dan ukuran ini dapat menghasilkan reliabilitas air sebesar 96,99 %
    per tahun. Semua sistem P AH yang dimodelkan dalam penelitian ini mempunyai
    reliabilitas lebih besar dari 50 %, sehingga sistem-sistem P AH tersebut layak
    secara hidrologi. NPV rancangan sistem PAH untuk tipe 29, 36, dan 48 bernilai
    negatif, yaitu -Rp 83,53 juta, -Rp87,48 juta, dan -Rp97,97 juta secara berturut­
    turut dan payback period qfrancangan sistem PAH untuk rumah tipe 29, 36, dan
    48 tidak dapat ditentukan, sehingga sistem-sistem P AH tersebut tidak layak secara
    ekonomi. Masyarakat memandang air hujan sebagai sumber alternatif air bersih
    yang dapat digunakan untuk keperluan selain air minum, seperti menyiram toilet,
    mencuci pakaian, mencuci piring, mencuci kendaraan dan menyiram tanaman.
    Selain itu,' masyarakat memandang bahwa untuk mendorong adopsi sistem P AH
    dalam pengembangan perumahan perlu adanya subsidi. Besarnya subsidi
    minimum yang rnemungkinkan NPV rancangan sistem pemanenan air hujan
    dalam penelitian ini bernilai positif adalah 70% atau lebih.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi