Implikasi EkonomiPada Sektor Pertanian Akibat Kenaikan Muka Air Laut Di Pesisir Kabupaten Subang
IMPLIKASI EKONOMI
KENAIKAN MUKA AIR LAUT PADA SEKTOR PERTANIAN
DI PESISIR KABUPATEN SUBANG
ABSTRAK
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 01001150700223 333.7 Kal I/R.25.59 Perpustakaan Pusat (REF.59) Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil 333.7 Kal I/R.25.59Penerbit Magister Ilmu Lingkungan : Bandung., 2015 Deskripsi Fisik xii,;84 hlm,;29 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 333.7 Kal ITipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab Kalther, Jimy -
IMPLIKASI EKONOMI
KENAIKAN MUKA AIR LAUT PADA SEKTOR PERTANIAN
DI PESISIR KABUPATEN SUBANG
ABSTRAK
Perubahan iklim merupakan ancaman yang serius bagi daerah pesisir
dengan elevasi rendah terutama kareria fenomena kenaikan muka air laut. Hal
tersebut akan menimbulkan peningkatan frekuensi terjadinya bencana seperti badai,
banjir, intrusi air laut, dan lain-lain. Banyak aktivitas manusia yang akan terkena
dampak, termasuk aktivitas pada sektor pertanian. Beberapa wilayah pesisir
Indonesia rentan terhadap kenaikan muka air laut padahal aktifitas sosial
masyarakat berpusat pada daerah tersebut. Subang, merupakan salah satu daerah
yang paling rentan terkena dampak kenaikan muka air laut di Indonesia, dimana
sebagian besar wilayh pesisirnya digunakan sebagai lahan pertanian. Tiga puluh
tujuh persen dari PDRB Kabupaten Subang disumbangkan oleh sektor pertanian.
Oleh karena itu, sektor pertanian adalah sektor yang sangat penting di Kabupaten
Subang. Penelitian ini membahas mengenai dampak ekonomi kenaikan muka air
laut pada sektor pertanian di Pesisir Kabupaten Subang dikarenakan perendaman
lahan pertanian di Pesisir Kabupaten Subang. Daerah yang akan terendam jika
muka air laut naik sebesar 0,4 m; 0,6 m; dan 0,8 m (berdasarkan skenario IPee dan
trendkenaikan muka air laut regional di Subang) diperkirakan mengunakan teknik
Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan memanfaatkan data Digital Elevation
Model (DEM) dan menumpang-susunkannya dengan peta penutupan lahan di
Kabupaten Subang.
Hasil permodelan GIS menunjukkan bahwa lahan pertanian yang akan
terkena dampak kenaikan muka air laut dengan skenario minimum adalah 1.418,97
hektar, 1.503,81 hektar (skenario normal), dan l.722,44 (skenario maksimum).
Lahan tambak yang akan terendam akibat kenaikan muka air laut di Pesisir
Kabupaten Subang adalah 4,829.71 hektar (skenario minimum), 4,906.66 hektar
(skenario normal), and 5,106.49 hektar (skenario maksimum). Perkiraan kerugian
ekonomi akibat kenaikan muka air laut yang terasosiasi dengan lahan tersebut
adalah Rp. 3,466 trilyun pada skenario minimum, Rp. 3,472 trilyun pada skenario
rata-rata, dan Rp. 3,818 trilyun pada skenario maksimum. Nilai tersebut didapatkan
dari nilai ekonomi kehilangan lahan, kehilangan produksi, kehilangan infrastruktur,
kehilangan pendapatan petani, dan kehilangan layanan ekosistem.
Untuk mencegah kerugian tersebut, beberapa kemungkinan pendekatan
adaptasi dapat dilakukan. Opsi terse but adalah perlindungan (dengan membangun
dikes yang dapat menahan masuknya air laut ke wilayah pesisir), akomodasi
(dengan mengubah lahan pertanian sawah menjadi lahan tambak udang atau
menanam varietas padi yang tahan terhadap salinitas), serta menghindar (dengan
melakukan relokasi warga).
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






