Detail Cantuman

Image of Pengaruh Karakteristik Bakteri dan Fisikokimia Kompos Feses Sapi Potong Terhadap Pertumbuhan Benih Komatsuna (Brassica rapa var. perviridis)

 

Pengaruh Karakteristik Bakteri dan Fisikokimia Kompos Feses Sapi Potong Terhadap Pertumbuhan Benih Komatsuna (Brassica rapa var. perviridis)


PENGARUH KARAKTERISTIK BAKTERI DAN
FISIKOKIMIA KOMPOS FESES SAPI POTONG TERHADAP
PERTUMBUHAN BENIH KOMATSUNA iBrassica rapa var.

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001150700257571.95 Sar p/R.25.231Perpustakaan Pusat (REF.231)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    571.95 Sar p/R.25.231
    Penerbit Magister Ilmu Lingkungan : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xi,;77 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    571.95 Sar p
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • PENGARUH KARAKTERISTIK BAKTERI DAN
    FISIKOKIMIA KOMPOS FESES SAPI POTONG TERHADAP
    PERTUMBUHAN BENIH KOMATSUNA iBrassica rapa var.
    perviridlsy

    ABSTRAK

    Feses sapi potong yang tidak diolah dapat menimbulkan kerusakan
    lingkungan berupa emisi gas rumah kaca, eutrofikasi, dan kontaminasi. Dalam
    penggunaan kompos sebagai pupuk organik, kematangan kompos harus dievaluasi.
    Feses sapi po tong segar tidak memiliki karakteristik bakteri dan fisikokimia yang
    coeok bagi aplikasi pertanian. Kematangan kompos dapat dievaluasi dengan
    mempelajari karakteristik bakteri dan fisikokimia kompos. Tujuan dari penelitian
    ini adalah untuk mengetahui perubahan karakteristik bakteri dan fisikokimia pada
    beberapa fase pengomposan dan juga untuk mengetahui efek dari karakteristik
    tersebut terhadap pertumbuhan benih Komatsuna. Feses sapi potong diambil dari
    Mie Prefecture Livestock Research Institute. Pengomposan dilaksanakan selama 5
    bulan yang dibagi menjadi dua fase, yaitu fase awal (0 - 40 hari) dan fase
    pematangan (bulan 2 - bulan 5). Sampel diambil dari delapan titik observasi yang
    mewakili empat fase pengomposan yaitu feses segar (minggu 1), fase termofilik
    (Bulan 1), fase pendinginan (Bulan 3) dan fase pematangan (Bulan 5), dan juga dua
    lapisan kompos, permukaan (0 - 5 cm) dan lapisan dalam (>50 cm). Parameter yang
    diamati adalah jumlah bakteri, identifikasi bakteri dalam pengomposan, pH,
    konduktivitas listrik, ammonia, kandungan bahan organik, asam lemak rantai
    pendek, jumlah biji berkecambah dan panjang akar komatsuna. Bakteri dari genus
    Staphylococcus dan Acinetobacter mendominasi komunitas mikroorganisme pada
    bulan 1 namun tidak terdeteksi pada fase berikutnya. Paenibacillus dan Bacillus
    mendominasi komunitas kompos pada fase thermofilik. Paenibacillus dan Bacillus
    penting bagi pematangan kompos. Kandungan bahan organik dan nisbah C:N lebih
    rendah dari ambang batas setelah 5 bulan. Tingkat pH berubah sedikit selama proses
    pengomposan, namun tingkat pH terse but optimal untuk pengomposan.
    Konduktivitas listrik lebih tinggi dari nilai kritis dari 3 mS/cm selama
    pengomposan. NH3 menurun secara bertahap seiring dengan matangnya kompos.
    Kandungan NH3 lebih rendah dari 0,04% BK (Berat Kering) kompos setelah 5
    bulan kompos. Asam lemak rantai pendek hanya terdeteksi pada minggu pertama
    kompos. Jumlah perkecambahan biji tertekan oleh kompos yang belum matang dan
    meningkat secara bertahap tergantung pada kematangan kompos. Perkecambahan
    memiliki korelasi yang tinggi dan negatif dengan konten NH3 dan kandungan bahan
    organik. Pemanjangan akar menghasilkan respons yang fluktuatif dan tidak
    memiliki korelasi dengan karakter fisikokimia kompos. Pengomposan selama 5
    bulan diperlukan untuk menurunkan kandungan ammonia pada kompos.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi