<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="47445">
 <titleInfo>
  <title>Pengaruh Karakteristik Bakteri dan Fisikokimia Kompos Feses Sapi Potong Terhadap Pertumbuhan Benih Komatsuna (Brassica rapa var. perviridis)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Sarwono, Ki Ageng</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>Magister Ilmu Lingkungan</publisher>
   <dateIssued>2015</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd"></form>
  <extent>xi,;77 hlm,;29 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>PENGARUH KARAKTERISTIK BAKTERI DAN &#13;
FISIKOKIMIA KOMPOS FESES SAPI POTONG TERHADAP &#13;
PERTUMBUHAN BENIH KOMATSUNA iBrassica rapa var. &#13;
perviridlsy &#13;
&#13;
ABSTRAK &#13;
&#13;
Feses sapi potong yang tidak diolah dapat menimbulkan kerusakan &#13;
lingkungan berupa emisi gas rumah kaca, eutrofikasi, dan kontaminasi. Dalam &#13;
penggunaan kompos sebagai pupuk organik, kematangan kompos harus dievaluasi. &#13;
Feses sapi po tong segar tidak memiliki karakteristik bakteri dan fisikokimia yang &#13;
coeok bagi aplikasi pertanian. Kematangan kompos dapat dievaluasi dengan &#13;
mempelajari karakteristik bakteri dan fisikokimia kompos. Tujuan dari penelitian &#13;
ini adalah untuk mengetahui perubahan karakteristik bakteri dan fisikokimia pada &#13;
beberapa fase pengomposan dan juga untuk mengetahui efek dari karakteristik &#13;
tersebut terhadap pertumbuhan benih Komatsuna. Feses sapi potong diambil dari &#13;
Mie Prefecture Livestock Research Institute. Pengomposan dilaksanakan selama 5 &#13;
bulan yang dibagi menjadi dua fase, yaitu fase awal (0 - 40 hari) dan fase &#13;
pematangan (bulan 2 - bulan 5). Sampel diambil dari delapan titik observasi yang &#13;
mewakili empat fase pengomposan yaitu feses segar (minggu 1), fase termofilik &#13;
(Bulan 1), fase pendinginan (Bulan 3) dan fase pematangan (Bulan 5), dan juga dua &#13;
lapisan kompos, permukaan (0 - 5 cm) dan lapisan dalam (&gt;50 cm). Parameter yang &#13;
diamati adalah jumlah bakteri, identifikasi bakteri dalam pengomposan, pH, &#13;
konduktivitas listrik, ammonia, kandungan bahan organik, asam lemak rantai &#13;
pendek, jumlah biji berkecambah dan panjang akar komatsuna. Bakteri dari genus &#13;
Staphylococcus dan Acinetobacter mendominasi komunitas mikroorganisme pada &#13;
bulan 1 namun tidak terdeteksi pada fase berikutnya. Paenibacillus dan Bacillus &#13;
mendominasi komunitas kompos pada fase thermofilik. Paenibacillus dan Bacillus &#13;
penting bagi pematangan kompos. Kandungan bahan organik dan nisbah C:N lebih &#13;
rendah dari ambang batas setelah 5 bulan. Tingkat pH berubah sedikit selama proses &#13;
pengomposan, namun tingkat pH terse but optimal untuk pengomposan. &#13;
Konduktivitas listrik lebih tinggi dari nilai kritis dari 3 mS/cm selama &#13;
pengomposan. NH3 menurun secara bertahap seiring dengan matangnya kompos. &#13;
Kandungan NH3 lebih rendah dari 0,04% BK (Berat Kering) kompos setelah 5 &#13;
bulan kompos. Asam lemak rantai pendek hanya terdeteksi pada minggu pertama &#13;
kompos. Jumlah perkecambahan biji tertekan oleh kompos yang belum matang dan &#13;
meningkat secara bertahap tergantung pada kematangan kompos. Perkecambahan &#13;
memiliki korelasi yang tinggi dan negatif dengan konten NH3 dan kandungan bahan &#13;
organik. Pemanjangan akar menghasilkan respons yang fluktuatif dan tidak &#13;
memiliki korelasi dengan karakter fisikokimia kompos. Pengomposan selama 5 &#13;
bulan diperlukan untuk menurunkan kandungan ammonia pada kompos.</note>
 <note type="statement of responsibility">Sarwono, Ki Ageng</note>
 <subject authority="">
  <topic>Pengomposan, feses sapi potong, fisikokimia,bakter</topic>
 </subject>
 <classification>571.95 Sar p</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Universitas Padjadjaran Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi</physicalLocation>
  <shelfLocator>571.95 Sar p/R.25.231</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">01001150700257</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan Pusat (REF.231)</sublocation>
    <shelfLocator>571.95 Sar p/R.25.231</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>20%252Fscan0001.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>47445</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-04-02 04:36:52</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2017-11-28 11:24:22</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>