Detail Cantuman

Image of Regresi COX Pada Survei Kompleks (Studi Kasus : Lama pemberian ASI Di Provinsi Riau Menggunakan Data SUSENAS 2012 )

 

Regresi COX Pada Survei Kompleks (Studi Kasus : Lama pemberian ASI Di Provinsi Riau Menggunakan Data SUSENAS 2012 )


Cox (1972) memperkenalkan metode regresi untuk meiihat faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya suatu peristiwa dengan peubah respon

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001150700012519.9 Bud RPerpustakaan Pusat (REF.14.133)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    519.9 Bud R/R.14.133
    Penerbit Magister Statistika Terapan : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xii,;65hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    519.9 Bud R
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Cox (1972) memperkenalkan metode regresi untuk meiihat faktor-faktor
    yang menyebabkan terjadinya suatu peristiwa dengan peubah respon
    berupa waktu survival. Pada data yang berasal dari survei kornpleks,
    regresi Cox biasa kurang tepat untuk diterapkan karena peluang setiap
    unit untuk terpilih sebagai sampel akan berbeda-beda. Binder (1992)
    mengembangkan regresi Cox dengan memperhatikan desain penarikan
    sampei menggunakan simulasi penarikan sampel stratifikasi. Dalam
    penelitian ini penggunaan regresi Cox pada survei kompleks akan
    diaplikasikan pada kasus lama pemberian ASI di Provinsi Riau
    menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2012
    dimana desain penarikan sampelnya tiga tahap berstrata. Pada regresi Cox
    yang menggunakan data setahun, terdapat dua prediktor yang signifikan
    terhadap penghentian pemberian ASI yaitu penolong persalinan medis
    serta tingkat pendidikan ibu menengah dan tinggi. Model regresi Cox
    dengan pembobot dan tanpa pembobot sampel dapat memberikan hasil yang
    berbeda. Berdasarkan perbandingan plot residu Cox-Snell menggunakan data
    setahun dan per triwulan, terlihat dengan jelas bahwa model dengan pembobot
    sampel memberikan hasil lebih fit dengan data. Hal ini sesuai dengan hasil
    penelitian Binder (1992) bahwa model dengan pembobot sampel memberikan
    hasil yang lebih baik. Oleh karena itu desain penarikan sampel hams ikut
    diperhatikan dalam membuat model. Standard error pada model dengan
    pembobot sampel lebih besar karena turut memperhitungkan desain penarikan
    sampel dan adanya subpopulasi.

  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi