Kontribusi Pemanfaatan Lahan Di Bawah Tegakan Pohon Pinus Berupa Budidaya Tanaman Kopi Dalam Program PHBM Terhadap Pendapatan Petani Peserta (studi kasus di kecamatan rancakalong kabupaten Sumedang)
Sempitnya kepemilikan lahan untuk melakukan kegiatan usaha tani,
berakibat pada penghasilan yang kurang menculrupi kebutuban keluarga. Hal ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 01001130700213 333.7 Nur k/R.25.100 Perpustakaan Pusat (REF.100) Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil 333.7 Nur k/R.25.100Penerbit Magister Ilmu Lingkungan : Bandung., 2013 Deskripsi Fisik x,; 110 hlm,;29 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 333.7 Nur kTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab Nurmala, Nunung -
Sempitnya kepemilikan lahan untuk melakukan kegiatan usaha tani,
berakibat pada penghasilan yang kurang menculrupi kebutuban keluarga. Hal ini
.mengakihatkan meningkatnyatekanan .masyarakat .terhadap .kawasanhutan.
Desakan kebutuhan hidup ini menimbulkan efek negatif terhadap perambahan lahan
sekitar hutan. Dalam upaya mengamank.an hutan, pada tahun 2006 Perhutani KPH
Sumedang melaksanakan program Pengelolaan Sumber daya Hutan Bersama
Masyarakat (PHBM) bekerjasama dengan masyarakat di sekitar hutan. Penelitian
ini dilakukan untuk mengkaji pengelolaan kelembagaan kemitraan antara petani
dan Perhutani, serta mengulrur besarnya kontribusi PHBM terhadap pendapatan
rumah tangga petani. Metode yang digunakan adalah dominant qualitative and
less dominant quantitative. Hasil penelitian menunujukkan bahwa pengelo1aan
kelembagaan antara petani peserta dan Perhutani melalui program PHBM
mengenai wewenang, hak kewajiban dan aturan pelaksanaan,secara keseluruhan
tidak berhasil. Kontribusi pendapatan rumah tangga petani program PHBM pada
strata I « 0,5 ha) sebesar (22 %), pada strata II (0,5-1 ha) sebesar (33%), pada
strata III (> 1 ha) sebesar (3.8%)~ Secara keselumhaa kontribusi PHBM
menempati urutan kedua yaitu berkisar 22% sampai 38 %. Pendapatan petani pada
strata II dan III lebih tinggi disebabkan luasnya penguasaan lahan dan jumlah
tanaman kopi yang dimiliki petani pada strata terse but. Sehiugga program PHBM
hanya dirasakan oleh petani yang memiliki modal besar untuk pengeluaran biaya
produksi. Hal ini mengindikasikan bahwa program PHBM belum mampu
meningkatkan pendapatan petani dan hidup sejahtera.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






