Detail Cantuman

Image of Kegagalan Black Economic Empowerment (BEE) di Afrika Selatan Pasca Apartheid : studi kekuasaan orientalisme

Skripsi  

Kegagalan Black Economic Empowerment (BEE) di Afrika Selatan Pasca Apartheid : studi kekuasaan orientalisme


Lebih dari dua dekade setelah berakhirnya apartheid, Afrika Selatan tetap menjadi negara dengan ketidakadilan (kesenjangan) ekonomi tertinggi di ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    170210140005327 LEE 47/2018Perpustakaan Fisip UnpadTersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    327 LEE 47/2018
    Penerbit FISIP Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xvii, 106 hlm.; 29,7 cm.
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    327
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Lebih dari dua dekade setelah berakhirnya apartheid, Afrika Selatan tetap menjadi negara dengan ketidakadilan (kesenjangan) ekonomi tertinggi di dunia. Akar dari ketidakadilan ini dapat ditarik mundur pada diterapkannya berabad-abad kebijakan kolonial dan apartheid atas penindasan ekonomi, diskriminasi rasial, serta kebijakan sistem pendidikan yang melayani kepentingan supremasi kulit putih. Upaya untuk mengatasi masalah ketidakadilan sosial ekonomi yang berbasis ras ini dilakukan melalui kebijakan Black Economic Empowerment (BEE) yang mulai diberlakukan pada awal pemerintahan demokratis kulit hitam. Namun kebijakan ini pada pelaksanaannya dibanding memberikan perbaikan kondisi perekonomian mayoritas kulit hitam yang pernah dikecualikan dalam sistem apartheid justru hanya memberikan keuntungan pada kelas elit kulit hitam dengan koneksi politik yang tinggi yang baru terbentuk setelah diberlakukannya kebijakan BEE ini. Dengan metode kualitatif dan perspektif poskolonial, peneliti berusaha mencari penyebab dari kegagalan BEE ini dengan menggunakan konsep kekuasaan orientalisme. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa baik dalam lingkup kekuasaan politik, intelektual, kultural maupun moral kondisi pasca apartheid Afrika Selatan masih lekat dengan ketimpangan power antara ex-colonizer (kulit putih) dan ex-colonized (kulit hitam). Hal ini termanifestasi dalam hubungan dominatif yang masih terjadi secara laten melalui terciptanya elit kecil politik kulit hitam yang kemudian menjadi topeng kepentingan bisnis kulit putih dalam menggagalkan BEE dan menjadi penghalang dari redistribusi ekonomi yang sebenarnya. Selain itu, inferioritas yang telah tertanam akibat sejarah panjang diskriminasi, eksklusi dan marjinalisasi dari jiwa dan pikiran yang belum terdekolonisasi secara sempurna pada akhirnya menjadi penyebab mendasar dari kegagalan BEE.

    Kata kunci : Afrika Selatan, Black Economic Empowerment, kekuasaan orientalisme, ex-colonizer, ex-colonized.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi