Detail Cantuman

No image available for this title

Skripsi  

Bargaining Power Indonesia dalam Renegosiasi Kontrak Karya dengan Newmont Nusa Tenggara (2012-2014)


Disahkannya UU no.4 tahun 2009 membuat rezim perizinan pertambangan seperti kontrak karya yang berdasarkan UU izin eksplorasi pertambangan tahun 1967 ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    170210110022327 RON 34/2018Perpustakaan Fisip UnpadTersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    327 RON 34/2018
    Penerbit FISIP Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xix, 84 hlm.; 29,7 cm.
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    327
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Disahkannya UU no.4 tahun 2009 membuat rezim perizinan pertambangan seperti kontrak karya yang berdasarkan UU izin eksplorasi pertambangan tahun 1967 perlu diubah. Beberapa perusahaan tambang besar di Indonesia tidak bisa lepas dari target perubahan tersebut. Newmont Nusa Tenggara, anak perusahaan multinasional Newmont Mining merupakan salah satu perusahaan tambang multinasional yang menjadi target perubahan kontra karya oleh pemerintah Indonesia. Perubahan isi kontrak karya terdapat dalam beberapa poin-poin tertentu. Peneliti meneliti bargaining power dari Indonesia terhadap Newmont Nusa Tenggara selama renegosiasi tahun 2012-2014. Peneliti menggunakan konsep bargaining power dari Tarzi yang membagi bargaining power menjadi potential bargaining power dan actual bargaining power. Potential bargaining power dapat dibagi menjadi 3 indikator yaitu karaktersitik proyek, kapabilitas negara penerima, dan faktor-faktor luar yang memengaruhi. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif untuk menyelesaikan penelitian dengan pendekatan studi kasus karena lebih dapat menggambarkan persoalan secara lebih luas dan menyeluruh. Peneliti menggunakn studi literatur untuk memperoleh data penelitian. Penelitian menyimpulkan bahwa bargaining power Indonesia terhadap Newmont Nusa Tenggara dari sisi potential bargaining power cukup kuat namun lemah dalam kapabilitas negara penerima dan faktor-faktor luar yang tidak tidak mendukung. Dari sisi actual bargaining power, Indonesia memiliki dasar hukum yang cukup namun dilemahkan seringnya perubahan aturan, ketergantungan ekonomi dan kondisi internasional yang tidak mendukung

    Kata kunci : Bargaining power, Kontrak Karya, Negara, Perusahaan Multinasional, Renegosiasi.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi