
Skripsi
Kebijakan Luar Negeri Iran terhadap Kelompok Negara P5+1 dalam Isu Nuklir pada 2013-2016
Isu nuklir Iran menjadi masalah internasional ketika Iran diduga IAEA melanggar NPT dengan mengembangkan senjata nuklir. Berbagai upaya, baik ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 170210130016 327 SYI 94/2017 Perpustakaan Fisip Unpad Tersedia namun tidak untuk dipinjamkan - No Loan -
Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikJudul Seri -No. Panggil 327 SYI 94/2017Penerbit FISIP Unpad : Bandung., 2017 Deskripsi Fisik xxv,119 hlm.; 29,7 cm.Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 327Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab Syifa Tsaniati -
Isu nuklir Iran menjadi masalah internasional ketika Iran diduga IAEA melanggar NPT dengan mengembangkan senjata nuklir. Berbagai upaya, baik sejumlah resolusi DK PBB, sanksi unilateral maupun multilateral yang dijatuhkan pada Iran sejak 2006 agar Iran mengubah kebijakan mengenai nuklirnya, tidak membuat Iran menghentikan program nuklirnya hingga 2013. Namun pada akhir tahun 2013, Iran membuat kesepakatan sementara dalam kerangka JPOA dan mencapai kesepakatan komprehensif melalui JCPOA pada tahun 2015 dengan kelompok Negara P5+1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor perubahan kebijakan Iran dalam isu nuklir terhadap kelompok Negara P5+1. Penelitian ini menggunakan teori kebijakan luar negeri dari James Rosenau yang terfokus pada faktor-faktor pembentuk kebijakan luar negeri yang terdiri dari lima variabel penting yaitu individual, role, governmental, societal dan systemic. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan level analisis eksploratif dari John Creswell dengan metode pengumpulan data melalui studi literatur dengan sumber jurnal, artikel dan berita untuk mendapatkan keakuratan data dan validitas dari hasil analisis yang disajikan. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor yang signifikan mempengaruhi kebijakan luar negeri Iran terhadap P5+1 dalam isu nuklir yang pertama adalah variabel individu yang merujuk pada Hassan Rouhani sebagai pembuat kebijakan luar negeri Iran. Faktor kedua adalah variabel role yang difokuskan pada Javad Zarif selaku negosiator nuklir pada saat kesepakatan dilakukan. Ketiga variabel systemic yang datang dari faktor geografis Iran yang berada di kawasan timur tengah yang rawan konflik, tekanan dari kelompok Negara P5+1 dan juga aliansi Iran dengan Tiongkok. Keempat adalah variabel societal yang bermula dari krisis ekonomi, opini publik dan kondisi sosial Iran. Terakhir adalah variabel governmental dimana terdapat koalisi faksi konservatif dan reformis yang kuat yang mempengaruhi keputusan Khameneni sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Iran dalam pembentukan kebijakan luar negeri Iran dalam isu nuklirya terhadap kelompok negara P5+1.
Kata kunci : Iran, Nuklir, kelompok Negara P5+1, kebijakan luar negeri, perubahan kebijakan nuklir, IAEA, NPT, JCPOA.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






