Detail Cantuman

No image available for this title

 

Pengembangan Masyarakat Melalui Pendidikan Non Formal dan Ekonomi Kreatif (Studi kasus di Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok, Bandung)


Penelitian ini tentang kegiatan pengembangan masyarakat yang digagas oleh
sebuah perkumpulan bernama Komunitas Taboo di Kampung Dago Pojok, ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    170510110041361.8 ANT 19/2017Perpustakaan Fisip UnpadTersedia namun tidak untuk dipinjamkan - No Loan
  • Perpustakaan
    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    361.8 ANT 19/2017
    Penerbit Antropologi : .,
    Deskripsi Fisik
    xii, 117 hlm,; 29,7 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    361.8 ANT 19/2017
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Penelitian ini tentang kegiatan pengembangan masyarakat yang digagas oleh
    sebuah perkumpulan bernama Komunitas Taboo di Kampung Dago Pojok, Kelurahan
    Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Penelitian ini bermaksud mengamati proses
    dan hasil pengembangan masyarakat dan menganalisisnya melalui sudut pandang
    antropologis.
    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan
    desain studi kasus yang bersifat deskriptif dan menggunakan teknik observasi partisipatif,
    wawancara, serta studi literatur dalam mengumpulkan data.
    Dari hasil temuan di lapangan diketahui bahwa pengembangan masyarakat yang
    digagas Komunitas Taboo di Kampung Dago Pojok melewati proses pengembangan
    masyarakat, yaitu pengembangan kapasitas yang dijalankan melalui lima elemen penting:
    pengembangan kapasitas pengetahuan masyarakat, kepemimpinan, membangun jaringan,
    menghargai komunitas dan mengajak komunitas untuk bersama-sama mencapai tujuan,
    dan dukungan informasi. Upaya pengembangan kapasitas tersebut berhasil
    meningkaptkan pengetahuan dan daya kritis masyarakat, di sisi lain juga memicu
    timbulnya kesadaran kolektif dan memperkuat modal sosial yang dimiliki.
    Proses pengembangan masyarakat telah membuahkan hasil, di antaranya
    tindakan kolektif dan perbaikan masyarakat dalam aspek fisik, pendidikan, sosial dan
    kebudayaan. Dari dua program hasil pengembangan masyarakat yang direncanakan,
    hanya “Kampung Wisata Kreatif” saja yang dimobilisasi dalam proses pembangunan
    ekonomi. Namun proses pembangunan ekonomi belum maksimal dijalankan. Hal itu
    karena dari grand design yang dibuat. Pembangunan ekonomi baru akan mulai fokus
    dilaksanakan dari akhir tahun 2016.
    Dalam studi kasus pengembangan masyarakat di Kampung Dago Pojok,
    terdapat faktor sosiokultural yang membantu melancarkan program dan ada pula yang
    menjadi penghambat jalannya program. Di antara faktor sosiokultural yang mendukung
    dalam penembangan masyarakat adalah nilai-nilai kebersamaan dan harmonisasi yang
    terwujud dalam Jargon: Silih asah, silih asih, silih asuh, faktor psikokultural: sikap
    percaya diri, toleran dan terbuka serta kreatif. Sementara faktor yang menjadi
    penghambat dalam proses pengembangan masyarakat diantaranya sikap mental atau daya
    psikokultural yang pada umumnya teralalu menilai tinggi konsep sama-rata sama-rasa.
    Akibat negatif dari sikap ini adalah apa yang disebut kecenderungan kepada
    konformisme, yaitu tak boleh menonjolkan diri sendiri. Jangan maju sendri, jangan beda
    sendiri. Padahal pembangunan membutuhkan manusia-manusia yang berani tampil di
    depan sebagai pionir.
    Kata Kunci: Pengembanagan Masyarakat, Pendidikan Non Formal, Ekonomi Kreatif,
    Faktor Sosiokultural
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi