Detail Cantuman

Image of HUBUNGAN ANTARA KADAR GLUKOSA DARAH DENGAN SYSTEMIC INFLAMMATORY RESPONSE SYNDROME PADA PASIEN POST KRANIOTOMI DI INTENSIVE CARE UNIT RSUP Dr.MOHAMMAD HUSEIN PALEMBANG

 

HUBUNGAN ANTARA KADAR GLUKOSA DARAH DENGAN SYSTEMIC INFLAMMATORY RESPONSE SYNDROME PADA PASIEN POST KRANIOTOMI DI INTENSIVE CARE UNIT RSUP Dr.MOHAMMAD HUSEIN PALEMBANG


Serangan stroke seringkali menimbulkan gejala sisa yang menyebabkan
kecacatan. Hal ini menyebabkan pasien memiliki ketergantungan terhadap ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001140700042610.73 Fit h /R.2.290Perpustakaan Pusat (ref.2.290)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    610.73 Fit h/R22.89
    Penerbit MAGISTER KEPERAWATAN UNPAD : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xvii,;84hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    610.73 Fit h/R22.89
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Serangan stroke seringkali menimbulkan gejala sisa yang menyebabkan
    kecacatan. Hal ini menyebabkan pasien memiliki ketergantungan terhadap orang
    lain dalam beraktivitas, sehingga pasien stroke memiliki kebutuhan khusus yang
    perlu dipersiapkan sebelum pasien pulang ke rumah. Oleh karena itu, tujuan dari
    penelitian ini adalah untuk menganalisis kebutuhan pasien terkait persiapan
    pemulangan pada pasien stroke berdasarkan tingkat ketergantungan.

    Metode yang digunakan yakni mixed method dengan strategi

    eksplanatoris sekuensial, terdiri dari urutan analisis kuantitatif dan kualitatif
    Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling, dengan sampel
    pasien stroke yang menjalani rawat inap di ruang neurologi RSVP Hasan Sadikin
    Bandung, berjumlah 28 orang yang sama untuk masing-masing tahapan. Pada
    tahap kuantitatif menggunakan instrumen The Northwick Park Dependency Score
    (NPDS) untuk mengukur tingkat ketergantungan dan wawancara semi-terstruktur
    untuk tahapan kualitatif

    Hasil penelitian menunjukkan setengahnya dari responden yang
    menderita stroke memiliki tingkat ketergantungan sangat tinggi, yakni sebesar
    50%. Diikuti dengan ketergantungan tinggi sebesar 21,4% serta tingkat
    ketergantungan sedang dan rendah masing-masing sebesar 14,3%. Pada
    pemenuhan kebutuhan dasar nilai tertinggi pada tingkat ketergantungan rendah
    dan sedang yakni masalah pergerakan; ketergantungan tinggi yakni masalah BAK
    dan BAB serta penekanan pada kulit; dan ketergantungan sangat tinggi yakni
    masalah komunikasi. Sedangkan pada kebutuhan keperawatan khusus hanya
    terdapat pada responden dengan tingkat ketergantungan tinggi dan sangat tinggi.
    Analisis variasi kebutuhan pasien stroke terkait persiapan pemulangan yakni
    berupa kebutuhan fisik (biologis): alat bantu dalam beraktivitas (asistenJorang
    untuk membantu beraktivitas, tongkat, dan barang untuk berpegangan), alat bantu
    BAK dan BAB (pispot dan pampers), al at bantu makan (N GT), manajemen nyeri
    (nyeri kepala dan nyeri punggung), dan infonnasi (penyakit, terapi fisik, waktu
    kontrol, manajemen pengobatan dan masalah seksual). Kebutuhan psikologis:
    dukungan emosional (kepasrahan akan kondisi, perasaan stress, kesulitan
    mengontrol emosi, dan malu dengan kondisi fisik). Kebutuhan sosial: motivasi
    dari orang lain (dukungan untuk sembuh). Dan kebutuhan spiritual: manajemen
    distress keyakinan (malu kepada tuhan terhadap kondisi) dan pelaksanaan ibadah
    (tata cara tayamum).

    Intrumen NPDS belum mampu menganalisis semua kebutuhan karena
    sebagian besar berfokus pada kebutuhan fisik, sehingga diperlukan tahapan
    kualitatif dengan wawancara untuk menggali kebutuhan non-fisik seperti
    kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritual.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi