Pola politik identitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Kota Bandung)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan pola politik
identitas yang dijalankan oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 01001140700140 320 Wal p Perpustakaan Pusat (REF.17.78) Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil 320 Wal p/R.17.78Penerbit Magister Ilmu Sosial Dan Politik : Bandung., 2014 Deskripsi Fisik vi,;122 hlm ,;29,5 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 320 Wal pTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab Walij, Ahmad -
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan pola politik
identitas yang dijalankan oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Kota
Bandung guna mempertahankan eksistensinya sebagai kelompok minoritas dalam
beragama. Kota Bandung dipilih sebagai lokasi penelitian ini karena Bandung
merupakan ibu kota propinsi dimana secara politik pemerintahan akan menjadi
tolak ukur mengenai kebijakan tentang keberadaan Jemaat Ahmadiyah Indonesia
di Propinsi Jawa Barat. Penelitian ini mengunakan metode kualitatif, dengan
mengunakan data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan melalui
wawancara mendalam mengenai persepsi pihak terkait mengenai kebijakan
tersebut. Data sekunder yang dikumpulkan berupa sumber tertulis mengenai
kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pelarangan penyebaran faham
Ahmadiyah serta peraturan perundangan dan berita mengenai tema penelitian
terkait. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan antara Jemaat
Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Kota Bandung dengan kelompok beragama lainnya
khususnya Islam yang terletak pada masalah keyakinan (aqidah). Perbedaan
tersebut menyangkut aqidah atau keyakinan penganut Ahmadiyah yang meyakini
Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908), sang pendiri gerakan sebagai nabi, Isa al
masih, dan Imam Mahdi yang dijanjikan. Keyakinan mereka mendapat penolakan
dan pertentangan dari mayoritas umat Islam yang meyakini bahwa Nabi
Muhammad SA W sebagai nabi terakhir sekaligus nabi penutup. Pertentangan
mengenai aqidah ini melahirkan stereotip atau prasangka dan label yang
dilekatkan oleh kelompok luar terhadap Ahmadiyah sebagai aliran sesat,
menyesatkan, dan bukan kelompok Islam.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






