Detail Cantuman

Image of KOnsep Diri

 

KOnsep Diri "Bemo" Di Kota Bandung (Studi Fenomenologi Tentang Konsep Diri "Bemo" / Benconhg-Homo Jalanan Di Bandung)


KONSEP DIRI "BEMO" DI KOT A BANDUNG

(Studi Fenomenologi Tentang Konsep Diri "Bemo" (Bencong-Homo) Jalanan di
Bandung)

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001130700298302.2 Rac k/R.21.148Perpustakaan Pusat (REF.21.148)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    302.2 Rac k/R.21.148
    Penerbit Magister Ilmu Komunikasi : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    x, 136 hlm. ; ill. ; 29 cm.
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    302.2 Rac k
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • KONSEP DIRI "BEMO" DI KOT A BANDUNG

    (Studi Fenomenologi Tentang Konsep Diri "Bemo" (Bencong-Homo) Jalanan di
    Bandung)

    Tesis dengan judul Konsep Diri "Bemo" di Kota Bandung bertujuan untuk
    rnernahami alas an waktu pertama kali memutuskan untuk menjadi "bemo",
    sekaligus memahami motif menjadi "bemo" jalanan, yakni dorongan untuk
    rnenetapkan pilihan perilaku "bemo", memahami konsep diri "bemo" jalanan,
    dan mengetahui simbol-simbol yang terbentuk dalam kelompok "bemo".

    Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah: Apa motif yang mendorong
    untuk menetapkan pilihan menjadi "bemo" jalanan? Bagaimana konsep diri
    "berno" jalanan di kota Bandung? Serta simbol-simbol komunikasi apa saja yang
    terbentuk dalam kelompok "bemo"? Metode yang digunakan dalam penelitian ini
    adalah Metode Kualitatif dengan tradisi Fenomenologi. Subjek dalam penelitian
    ini adalah "bemo" jalanan di kota Bandung. Pengumpulan data dilakukan dengan
    rnetode wawancara mendalam dan observasi partisipasif.

    Hasil penelitian mengungkapkan bahwa "bemo" jalanan dapat
    dikategorikan menjadi dua, yakni sebagai Bemo Permanen dan Bemo Temporer
    berkaitan dengan motivasi mereka untuk menjadi bemo jalanan. Bemo Permanen
    adalah bemo yang merasa bahwa jalan hidup melacur adalah satu-satunya jalan
    untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan kebutuhan keluarganya, karena
    rnereka merasa tidak ada pekerjaan lain yang lebih sesuai dan lebih menjanjikan
    untuk mereka yang berasal dari jenjang pendidikan yang rendah. Sementara itu,
    Berno Temporer beralasan untuk turun ke jalan karena dirinya ingin memenuhi
    kebutuhan sehari-hari sembari mencari pekerjaan tetap, dan untuk menghabiskan
    waktu.

    Konsep diri Bemo Permanen maupun Bemo Temporer sama-sama negatif,
    karena mereka sama-sama sadar bahwa melacur adalah pekerjaan yang tidak
    pantas. Bedanya, bemo permanen memiliki konsep diri yang jauh lebih negatif
    dibanding bemo temporer yang merasa percaya diri dan yakin, bahwa pekerjaan
    sebagai bemo hanya sementara, dan merasa bahwa diri mereka mampu mencari
    pekerjaan lebih baik yang mereka inginkan. Bemo Permanen lebih merasa rendah
    diri dengan alasan mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu dan jenjang
    pendidikan mereka rendah sehingga tidak mungkin bagi mereka untuk
    rnenemukan pekerjaan yang memberi penghasilan sebanyak mereka bekerja
    sebagai bemo jalanan.

    Perilaku komunikasi yang terbentuk dalam kelompok "bemo" dekat
    dengan penggunaan bahasa waria. Perilaku bemo sensitif dan curiga dengan
    "orang luar". Simbol komunikasi verbal yang ditunjukkan bemo ialah istilahlkata­
    kata yang merujuk pada panggilanlsebutan terhadap orang, aktivitas saat bekerja
    di jalanan dan kata kerja maupun kata sifat yang merujuk pada kegiatan sehari­
    hari. Mereka juga menyampaikan pesan nonverbal dari gaya berpakaian dan gaya
    berdandan.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi