Interaksi sosial penderita HIV / AIDS dalam masyarakat di kota jayapura ( SEMBILAN KASUS PENDERITA HIV/AIDS )
Penelitian ini bertujuan menjelaskan interaksi sosial penderita HIV / AIDS
dalam masyarakat kota Jayapura. Pendekatan yang digunakan adalah ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 01001120700271 302 Ken i Perpustakaan Pusat (REF.17.18) Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil 302 Ken i/R.17.18Penerbit Magister Ilmu Sosial Dan Politik : Bandung., 2012 Deskripsi Fisik xiii, 146 hlm. ; il. ; 29 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 302 Ken iTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab Kenden, Ermayati -
Penelitian ini bertujuan menjelaskan interaksi sosial penderita HIV / AIDS
dalam masyarakat kota Jayapura. Pendekatan yang digunakan adalah teori
interaksi simbolik dari Herbert Blumer, untuk mengkaji interaksi dan jarak sosial
diantara para penderita HIV / AIDS dengan kelompok masyarakat. Penelitian
menggunakan metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui
wawancara, pengamatan, dan studi dokumentasi. Sembilan kasus diperoleh dari
LSM pendamping HIV / AIDS di Kota Jayapura.
Penelitian menemukan bahwa kehidupan Kota Jayapura, khususnya
Abepura, dengan pertumbuhan penduduk pendatang dan tempat-tempat
pertemuan publik yang permisif, membuka ruang bagi interaksi seksual multi
pasangan yang mendorong semakin cepatnya penyebaran HIV / AIDS. Adapun
interaksi sosial penderita HIV / AIDS dengan lingkungan sosialnya tergantung
pada pengetahuan dan pemahaman tentang sebab akibat penyakit tersebut, baik
dari pihak penderita HIV / AIDS maupun orang-orang lain di lingkungannya.
Keterkejutan semua pihak akan status positif mengidap HIV / AIDS, terutama
disebabkan kaitan simbolik di antara penyakit tersebut dengan perilaku seksual
bebas yang menyimpang dari norma-norma sosial yang mengacu pada ajaran
agama, sehingga muncul stigma terhadap penderita. Stigma bisa bersifat internal,
yaitu dari penderita sendiri, yang kemudian menarik diri dari pergaulan sosial.
Stigma eksternal muncul spontan dari lingkungan sosialnya pada kelompok
masyarakat. Namun kelompok masyarakat dari kalangan keluarga lebih dapat
menerima penderita, khususnya setelah mendapatkan pengetahuan yang memadai
tentang penyakit HIV / AIDS yang tidak selalu berpangkal pada perilaku
menyimpang dari penderita. Fungsi keluarga sebagai sumber perlindungan dan
kasih sayang bekerja relatif baik untuk membantu penderita melanjutkan
kehidupannya. Kelompok masyarakat pada umumnya menarik jarak dari penderita
HIV/AIDS karena stereotip negatif tentang sebab akibat penyakit tersebut.
Kekecualian adalah pada para pegiat LSM pendamping penderita HIV / AIDS,
yang sesungguhnya merupakan orang yang hidup di lingkungan tempat tinggalnya
penderita. Namun misi, pengetahuan, dan pengalaman mereka, kemudian justru
menjadikan mereka sebagai kelompok masyarakat yang hidup bersama-sama
dalam satu atap yang mendukung pemulihan kehidupan sosial para penderita
HIV/AIDS di Kota Jayapura.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






