Detail Cantuman

Image of Diskursus Membangun Ideologi Tandingan Dalam Masyarakat Marjinal (Analisis Wacana Teks Pemberitaan Abu Bakar Ba'asyir Di Majalah Sabili Dalam Perspektif Kognisi Sosial)

 

Diskursus Membangun Ideologi Tandingan Dalam Masyarakat Marjinal (Analisis Wacana Teks Pemberitaan Abu Bakar Ba'asyir Di Majalah Sabili Dalam Perspektif Kognisi Sosial)


Media massa dari waktu kc waktu terbukti telah bias dalam memberitakan
Islam dan Umat Muslim terutama saat membahas wacana terrorisme. Setiap ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001130700137302.2 Kho d/R.21.107Perpustakaan Pusat (REF.21.107)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    302.2 Kho d/R.21.107
    Penerbit Magister Ilmu Komunikasi : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xii, 196 hlm,; 21 cm.
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    302.2 Kho d
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Media massa dari waktu kc waktu terbukti telah bias dalam memberitakan
    Islam dan Umat Muslim terutama saat membahas wacana terrorisme. Setiap
    Muslim yang membaca suratkabar, menonton televisi dan mendengarkan siaran
    radio tentunya menyadari akan hal ini. Sebagian besar media massa umumnya
    meliput terrorisme secara gambling akhirnya mengidentikkan antara terorisme dan
    Islam. Khususnya periode pasca serangan WTC, Pentagon dan born Bali, kata­
    kata yang menyudutkan seperti "fundamentalisme" kemudian dikait-kaitkan pada
    sikap ekstrimisme dan akhirnya terorisme. Sejak itu, para ahli yang membahas
    Islam dalam wacana terorisme disejajarkan dengan ideologi yang bersifat utopian
    seperti fasisme dan komunisme, saat mereka membahas relasi Islam dan
    terorisme. Dari waktii ke waktu setiap serangan born selalu dika.itkafi dengan
    jaringan AI Qaidah yang dipercaya banyak pihak dipimpin oleh Osama Bin
    Laden. Beberapa bulan sebelum pemboman di Bali, media massa telah memblow­
    up Abu Bakar Ba' asyir yang selalu disinyalir berhubungan dengan AI-Qaidah,
    bahkan dia disebut sebagai sebagai pimpinan Jamaah Islamiyah yang dituduh
    sebagai cabang Al Qaidah di Asia T enggara. Kemudian, beberapa hari setelah
    pemboman di Bali, Ba'asyir ditangkap dan diadili atas keterlibatannya pada
    serangan itu.Setelah itu, Ba'asyir menjadi ikon kedua disamping Osama Bin
    Laden dalam wacana terorisme.Sekalipun di pengadilan Ba'asyir tidak terbukti
    bertanggungjawab atas aktivitas terorisme dan keterlibatannya di Jamaah
    Islamiyah, juga kontribusinya pad a serangan itu. Namun tetap saja Ba' asyir di
    penjara.

    Buku ini mencoba menjelaskan begitu banyaknya faktor yang terlibat di
    dalam wacana terorisme melalui analisis liputan Ba'asyir oleh media, khususnya
    majalah Sabili yang merepresentasikan jurnalisme advokasi pada kasus Ba'asyir.
    Analisis komparatif secara fragmentatif juga dilakukan terhadap beberapa tulisan
    tentang Ba'asyir dan terorisme di beberapa media Barat. Kajian dalam buku
    bersifat multidimensi atas wacana terorisme di media massa, seperti model
    kognisi mental jurnalis, wacana hegemonik, politik, sosial, budaya, dan ideologi.
    Kesemua aspek tersebut juga terekspresikan melalui struktur mikro wacana teks
    di media massa. Diskursus terorisme dibedah melalui framework kognisi sosial
    dari Teun Van.Dijk yang melibatkan model mental, pengetahuan, sikap,
    ideologi.dan strategi wacana yang diproduksi. Dalam struktur makro, melibatkan
    telaah secara sosial, budaya dan politik yang terlibat dalam proses diskursus
    terorisme. Buku ini memberikan perspektif yang praktis dan komprehensif dalam
    studi analisis wacana kritis ( critical discourse analysis ) baik secara teoritis,
    metodologis dan praktis bagi peminat kajian wacana kritis.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi