Komunikasi antarumat berbeda agama (Studi fenomenologi Interaksi Guru Dan Siswa Berbeda Agama Pasca Konflik Di SMA Negri 3 Ambon)
KOMUNlKASI ANTARUMAT BERBEDA AGAMA
(Studi Fenomenologi Interaksi Guru dan Siswa Berbeda Agama Pascakonflik
di SMA Negeri 3 ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 01001100700079 302.2 Rah k/R.21.149 Perpustakaan Pusat (REF.21.149) Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil 302.2 Rah k/R.21.149Penerbit Magister Ilmu Komunikasi : Bandung., 2010 Deskripsi Fisik xviii, 228 hlm. ; il. ; 29 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 302.2 Rah kTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab Rahman, Husni -
KOMUNlKASI ANTARUMAT BERBEDA AGAMA
(Studi Fenomenologi Interaksi Guru dan Siswa Berbeda Agama Pascakonflik
di SMA Negeri 3 Ambon). Oleh: Husni Rahman, Tesis Magister dengan Tim
Pembimbing: Prof. Dr. H. Soleh Soemirat, MS. (Ketua), dan Dr. Elvinaro
Ardianto, M.Si. (Anggota)
Konflik sosial bemuansa agama yang pemah terj adi di Kota Ambon pada
awal dekade ini tidak dipungkiri telah berimplikasi luas secara sosial, Di antara
implikasi tersebut adalah tersegregasinya pemukiman warga serta fasilitas sosial
menu rut agama masing-masing, yaitu Islam dan Kristen, yang salah satunya
terlihat pada sekolah-sekolah, baik negeri maupun swasta. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui bagaimana umat berbeda agama berinteraksi di lingkungan
sekolah pascakonflik.
Adapun metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan
pendekatan fenomenologi dan interaksi simbolik, teknik pengumpulan data
menggunakan wawancara mendalam dan observasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketika awal interaksi muncul rasa
curiga, prasangka dan khawatir di antara guru maupun siswa yang berbeda agama.
Sikap dan tindakan yang dianggap masih menjadi kendala adalah perlakuan
diskriminatif berupa penilaian dan pemberian sanksi yang tidak adil, khususnya
yang dilakukan oleh guru tertentu terhadap siswa yang berbeda agama. Fenomena
lain yang terlihat adalah adanya jarak fisik dalam berkomunikasi khususnya di
antara siswa yang berbeda agama di dalam kelas. Mayoritas siswa lebih memilih
duduk dengan teman seagama di dalam kelas. Selain itu penggunaan simbol
imbol agama, baik verbal maupun nonverbal juga menjadi fenomena baru di
sekolah.
Berdasarkan hasil penelitian dan pernbahasan maka penulis menyimpulkan
bahwa interaksi antara guru dan siswa berbeda agama di SMA Negeri 3 Ambon
berlangsung dalam suasana saling menghormati dan saling menghargai, walaupun
tidak dipungkiri masih terdapat sejumlah hambatan, khususnya yang dialami oleh
siswa. Siswa yang pemah mengalami dan merasakan dampak langsung konflik
cenderung menjaga jarak dalam berinteraksi dengan guru atau siswa berbeda
agama, apalagi jika ia merasa diperlakukan secara tidak adil dalam interaksi di
sekolah. Kepemimpinan yang adil dan bijaksana dari kepala sekolah menjadi
faktor penting sehingga suasana tersebut dapat berlangsung kondusif sebagaimana
yang diharapkan.
Berdasarkan kesimpulan tersebut maka guru dan siswa yang berbeda agama
disarankan untuk menunjukkan dan mempertahankan sikap dan perilaku yang
baik, adil, mengesankan, jujur, dan menghargai perbedaan di antara mereka.
Sebaliknya, mereka harus menghindari sikap dan perilaku diskriminatif, sehingga
suasana harmonis dapat terus terjaga. Hal itu akan mudah diterapkan jika
pimpinan sekolah dan guru-guru dapat memberi contoh langsung dalam sikap dan
tindakan nyata, dan bukan hanya melalui ceramah dan dialog.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






