Detail Cantuman

Image of Identitas etnik dalam komunikasi politik anggota DPRD kota Palu

 

Identitas etnik dalam komunikasi politik anggota DPRD kota Palu


Identifikasi identitas etnik yang Iazim dilakukan pada masyarakat multietnik
senantiasa di arahkan pada situasi dan konteks di mana seseorang ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001100700066302.598 439 Ily i/R.21.213Perpustakaan Pusat (REF.213)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    302.598 439 Ily i/R.21.213
    Penerbit Magister Ilmu Komunikasi : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xv, 232 hlm. ; il. ; 29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    302.598 439 Ily i
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Identifikasi identitas etnik yang Iazim dilakukan pada masyarakat multietnik
    senantiasa di arahkan pada situasi dan konteks di mana seseorang berada. Dalam konteks
    politik, terutama pada lembaga seperti DPRD, identifikasi identitas etnik menjadi
    kemestian dalam perilaku dan komunikasi politik yang tujuan utamanya adalah menarik
    simpati calon pemilih dan meningkatkan popularitas seseorang atau partainya. Identitas
    etnik adalah sesuatu yang problematik ketika diperhadapkan dengan komunikasi politik,
    terutama dalam sistem pemilu yang demokratis. la bisa menjadi pembeda atau ko­
    identifikasi bagi pihak-pihak yang menggunakannya untuk tujuan meraih dukungan
    politik.

    Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan
    Dramaturgis dari Erving Goffman dan Etnik Situasional dari Fredrik Barth. Penentuan
    obyek dan subyek penelitian dilakukan dengan pertimbangan heterogenitas penduduk dan
    keunikan tema yang diteliti. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa
    wawancara mendalam, pengamatan dan studi dokumentasi.

    Hasil penelitian mengungkapkan bahwa atribut artifisial komunikasi politik
    anggota DPRD Palu seperti pakaian yang digunakan, gaya hidup, kendaraan yang dimiliki,
    gaya berkomunikasi dan hubungan dengan media merupakan bentuk pengelolaan kesan
    (impression management) dalam panggung politik. Sementara simbol-simbol identitas
    etnik yang ditemukan dalam komunikasi politik adalah, munculnya nama keluarga sebagai
    identitas, bahasa daerah, logat, ad at istiadat dan falsafah hidup setiap etnik. Beragam
    simboI tersebut kemudian melahirkan stigma pendatang dan asli sebagai bentuk pembeda
    dan ko-identifikasi identitas etnik dalam kegiatan komunikasi politik di DPRD Kota Palu.
    Istilah pendatang disematkan pada mereka yang tidak memiliki ikatan genealogis,
    perkawinan, tempat lahir dan hubungan erat dengan pejabat atau tokoh politik yang
    beretnis Kaili. Dalam prosesnya etnik pendatang berusaha mengkonstruksi identitas baru
    yang mereka sebut sebagai "orang Palu" yang dianggap lebih netral dan mampu
    memayungi semua etnik yang berdomisili dan ada kaitannya dengan Kota Palu.

    Anggota DPRD dari Etnik Bugis, Minahasa, Jawa dan Sunda berusaha
    menonjolkan identitas sebagai Orang Palu tetapi di si si lain tetap di anggap sebagai
    pendatang oleh sebagian besar etnik Kaili. Sementara sebagian besar etnik Kaili atau orang
    asli Palu menganggap diri mereka masih memiliki ikatan kekerabatan dengan etnik Bugis
    dan Mandar di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Penggunaan beragam identitas
    tersebut juga dilakukan sesuai konteks dan waktu yang mereka anggap dapat memberikan
    euntungan politik, penerimaan sosial dan budaya. Terutama dalam hal kepentingan
    pemilihan umum atau pemilukada.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi