Detail Cantuman

Image of Sistem diatesis aktif dan pasif dalam bahasa Aceh analisis morfosintaksis

 

Sistem diatesis aktif dan pasif dalam bahasa Aceh analisis morfosintaksis


Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sistem diatesis aktifdan pasif dalam
bahasa Aceh. Kajian ini menekankan pada konstituen pembentuk ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001110700101459.811 Iqb s/R.18.215Perpustakaan Pusat (REF.18.215)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    459.811 Iqb s
    Penerbit MAGISTER ILMU BUDAYA : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xv, 187 hlm. ; il. ; 29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    NONE
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sistem diatesis aktifdan pasif dalam
    bahasa Aceh. Kajian ini menekankan pada konstituen pembentuk diatesis ditinjau
    dari segi morfologi dan sintaksis. Di samping itu, struktur peran serta persesuaian
    digambarkan secara sistematis serta fenomena- fenomena lain yang ada kaitannya
    dengan diatesis.

    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif. Data
    penelitian adalah data tulis dan data lisan (dari informan). Data lisan, memiliki
    kriteria: (l) seorang informan harus memiliki keaslian. (2) setiap informan dipilih
    secara acak, tetapi representatif, (3) dewasa, dan (4) lahir dan sudah tinggal di Aceh
    dalam waktu yang lama. Sementara untuk data tulis merujuk pada Tata Bahasa Aceh,
    Kamus Bahasa Aceh, publikasi yang berkenaan dengan bahasa Aceh, serta cerita
    rakyat Aceh yang ditulis dalam bahasa Aceh. Semua data tersebut dianalisis
    menggunakan metode kajian distribusional.

    Hasil analisis menunjukkan bahwa secara morfologis bentuk diatesis aktif
    dapat ditandai dengan persesuaian, baik proklitik maupun enklitik, afiksasi
    (pengimbuhan), serta makna iheren verba, sedangkan diatesis pasif ditandai dengan
    penanda formal le 'oleh'. Ini berlaku pada pasif ubahan dari kalimat aktif. Sementara
    untuk pasif pengedepanan pelaku dapat ditandai dengan penanggalan proklitik yang
    me1ekat pada verba. Prefiks teu-, dan kata keunong 'kena' juga menandakan diatesis
    pasif secara morfologis. Di pihak lain, secara sintaksis unsur pelaku diatesis aktif
    dapat dirujuk secara anaforik oleh persesuaian, sedangkan diatesis pasif sebaliknya.
    Dengan catatan bahwa urutan kedua kalimat tersebut masih menggunakan pola dasar.
    Ciri lainnya adalah kehadiran unsur pelaku diatesis aktif bersifat opsional,
    sedangkan kehadiran unsur pelaku diatesis pasif bersifat wajib. Di sisi lain, struktur
    peran diatesis aktif dan diatesis pasif tidak terdapat perbedaan. Artinya, sama-sama
    disusun oleh sebuah konstituen pusat; menghadirkan satu, dua, atau tiga pendamping
    inti. Persesuaian dapat dilekatkan pada semua verba asal dan turunan, baik pada
    struktur diatesis aktif maupun pada struktur diatesis pasif. Setiap persesuaian
    merujuk kepada agen. Artinya, verba selalu berubah bentuk sesuai dengan agen yang
    berperan sebagai pelaku, pengalam, atau peruntung. Relasi antara persesuaian
    dengan agen pada verba aktif dan pasif sangat erat. Hal ini terbukti dengan hadimya
    persesuaian pada verba asal dan verba turunan meskipun verba tersebut telah diberi
    afiks.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi