Detail Cantuman

Image of Perkembangan Pesantren Di Kabupaten Bandung

 

Perkembangan Pesantren Di Kabupaten Bandung


ABSTRAK

Pesantren merupakan lembaga pendidikan informal yang bertujuan
hendak mencetak kader ularna yaitu seseorang yang ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001070900309297.6 Fal p/R.63.29Perpustakaan Pusat (REF.63.29)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    297.6 Fal p/R.63.29
    Penerbit Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat(LPPM) : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    297.6 Fal p
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • ABSTRAK

    Pesantren merupakan lembaga pendidikan informal yang bertujuan
    hendak mencetak kader ularna yaitu seseorang yang memiliki pengetahuan
    mendalam tentang agama Islam. Biasanya, terdapat ikatan kuat antarpesantren
    baik yang dipersatukan oleh hubungan darah maupun hubungan antara guru dan
    murid. Biasanya, seorang santri yang telah dinyatakan lulus dari pesantren diberi
    tugas untuk berdakwah dengan mendirikan sebuah pesantren.

    \

    Dalam perkembangannya, pesantren tidak hanya memainkan peran

    sebagai lembaga pendidikan keagamaan semata, melainkan juga memainkan
    peranan di bidang sosial, politik, budaya, dan ekonomi. Dalam konteks inilah, ada
    hal yang menarik untuk diteliti yaitu perkembangan pesantren, baik dari si si
    kelembagaan maupun hubungannya dengan pihak luar. Perkembangan ini penting
    diteliti karena tidak semua pesantren yang ada di Kabupaten Bandung
    menunjukkan arah perkembangan yang sama. Kenyataan tersebut tentunya sangat
    dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang bersifat eksternal maupun internal.

    Mengungkap perkembangan pesantren di Kabupaten Bandung berarti
    menguraikan perjalanan pesantren dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, dalam
    penelitian ini digunakan metode sejarah yang terdiri atas empat tahap, yaitu
    heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Untuk menghasilkan historiografi
    yang bersifat deskriptif-analitis, dipergunakan pendekatan ilmu-ilmu sosial
    dengan meminjam beberapa konsep dan teori sosiologi dan antropologi.

    Hasil penelitian menunjukkan di Kabupaten Bandung, tidak semua
    pesantren mengalarni perkembangan sesuai dengan harapannya. Pada umurnnya,
    pesantren yang berada di bawah NU masih mempertahankan tradisi salafiyahnya,
    meskipun unsur-unsur pendidikan formal sudah menjadi bagian integral dari
    kurikulum pesantren terse but, seperti yang .diperlihatkan oleh Pesantren: Baitul
    Arqam, Al Muffasir, Sumur Bandung, dan Yamisa. Sementara itu, Pesantren Al
    Ittifaq menunjukkan perkembangan yang kurang lazim bagi kalangan salafi.
    Pesantren ini tidak hanya berperan sebagai pusat dakwah dan pendidikan Islam,
    tetapi juga menjadi sentra pertanian (agrobisnis). Sementara itu, pesantren yang
    berada di bawah naungan Persis, pada umurnnya mengacu pada kebijakan pp
    Persis kecuali Pesantren Persis No. 34 Cibegol, Soreang. Tahun masehi tidak
    dipakai untuk menentukan tahun ajaran, melainkan menggunakan perhitungan
    tahun hijiriah. Akan tetapi, secara keseluruhan pesantren ini merupakan bagian tak
    terpisahkan dari sistem pesantren di lingkungan Persis.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi