Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

Pengaruh Remitansi dan Bantuan Sosial Terhadap Konsumsi, Kesehatan dan Pendidikan di Indonesia


ABSTRAK

Transfer publik dan privat membuat rumah tangga memiliki tambahan pendapatan
untuk melonggarkan kendala anggarannya. ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    D4726D4726Perpustakaan Sekolah PascasarjanaTersedia
  • Perpustakaan
    Sekolah Pascasarjana
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    D4726
    Penerbit : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    NONE
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • ABSTRAK

    Transfer publik dan privat membuat rumah tangga memiliki tambahan pendapatan
    untuk melonggarkan kendala anggarannya. Remitansi yang diperoleh melalui
    proses migrasi adalah salah satu dari strategi rumah tangga dalam memastikan
    keberlangsungan pendapatan. Remitansi biasanya diperoleh rumah tangga yang
    relatif lebih makmur, akibat adanya berbagai kendala dalam proses migrasi. Di sisi
    lain, mereka yang miskin dan rentan harus puas dengan perolehan bantuan sosial
    yang disediakan pemerintah. Kedua jenis transfer tersebut berpotensi untuk
    mempengaruhi pola konsumsi rumah tangga pada jangka pendek maupun panjang.
    Menggunakan data level rumah tangga dari Indonesia Family Life Survey, disertasi
    ini terdiri dari tiga topik utama yang ingin menguji secara langsung efek yang
    diakibatkan oleh penerimaan remitansi dan bantuan sosial. Pada bagian pertama
    ingin diketahui bagaimana akses terhadap remitansi dan bantuan sosial mungkin
    mempengaruhi pola konsumsi, serta, kemiskinan dan ketimpangan pendapatan.
    Menggunakan metode three-stage least square, diketahui bahwa bantuan sosial
    berpengaruh positif pada konsumsi makanan dan pendidikan, sedangkan remitansi
    berpengaruh pada belanja pendidikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa, hingga
    batas tertentu, remitansi diperlakukan sebagai transitory income, sedangkan
    bantuan sosial mengikuti pola absolute income hypothesis. Serupa dengan temuan
    lainnya, dari tulisan ini diketahui bahwa kedua jenis transfer berhubungan
    substitusi. Lebih jauh lagi, kedua jenis transfer berkontribusi terhadap penyetaraan
    pendapatan. Namun, bantuan sosial berdampak lebih kecil sehubungan dengan
    kecilnya jumlah bantuan serta adanya ketidaktepatan target (inclusion dan exclusion
    error).
    Penelitian kedua mencoba untuk mengekplorasi mengenai subjective well-being
    yang dialami oleh rumah tangga penerima remitansi dan bantuan sosial. Pada topik
    ini penulis ingin melihat lebih jauh apakah remitansi dan bantuan sosial yang
    diterima mampu memberi kontribusi terhadap kepuasan hidup, konsumsi makanan,
    maupun pelayanan kesehatan. Menggunakan metode ordered-probit, diketahui
    bahwa mereka yang muda, perempuan, menikah, suku bangsa Jawa, berpendapatan
    dan berpendidikan tinggi, memiliki aset, dan tinggal di perkotaan cenderung
    memiliki tingkat subjective well-being yang lebih tinggi. Demikian pula dengan
    rumah tangga penerima remitansi yang cenderung lebih tinggi tingkat subjective
    well-beingnya dibandingkan bukan penerima.
    Topik terakhir membahas tentang kesehatan dan pendidikan anak-anak dan remaja
    yang berasal dari rumah tangga penerima remitansi dan bantuan sosial.
    Menggunakan metode probit, diketahui bahwa anak dari keluarga penerima
    remitansi cenderung lebih baik status gizinya dibandingkan dengan mereka yang
    bukan penerima remitansi maupun anak penerima bantuan sosial. Selanjutnya
    asupan gizi seimbang dan aktivitas fisik yang teratur juga turut menentukan status
    gizi anak dan remaja. Sementara di bidang pendidikan, teruji bahwa anak yang
    ii
    berasal dari rumah tangga penerima remitansi cenderung lebih rendah angka
    partisipasi sekolahnya akibat kentalnya budaya migrasi.

    Kata kunci: Remitansi, Bantuan Sosial, Pengeluaran rumah tangga, Subjective
    well-being, Kemiskinan, Ketimpangan, Kesehatan, Pendidikan, Indonesia

    ABSTRACT

    Public and private transfers allow households to earn extra income to loosen their
    budget constraint. Remittances obtained by households through the migration
    process are part of their strategies in ensuring income sustainability which is
    received by the relatively more prosperous households, due to the various
    constraints in the migration process. On the other hand, the poor rely on the social
    assistance provided by the government. Both kinds of transfer potentially influence
    household expenditure patterns in the short and long run.
    Using household-level unit data from the Indonesia Family Life Survey, this
    dissertation consists of three papers that examine the relationship between
    remittances and social assistance. The first part aims to explore how access to
    remittances and social assistance might affect households’ welfare and
    consumption behavior, as well as, poverty and inequality. Employing a three-stage
    least squares model, it is found that social assistant is positively associated with
    food and educational spending, while remittances are associated with education
    expenditure. Therefore, somewhat, remittances are used as transitory income and
    social assistance is following the absolute income hypothesis. Similar to other
    findings, I also find that the two transfers are substitutes. Furthermore, both
    transfers contribute to greater equality. However, social assistance has limited
    impact due to the small amount as well as the inclusion and exclusion error.
    The second part tries to explore subjective well-being experienced by the receiving
    transfers households. Transfers sent are usually intended to meet only material
    needs. In this topic, I want to explore whether remittances and social assistance
    received contribute to life satisfaction, food consumption, or healthcare. Using the
    ordered-probit method, it is found that those who are young, female, married,
    Javanese, have better income and education, have more assets, and live in urban
    areas experience higher subjective well-being. Likewise, remittances recipient
    households are better off than the non-receiver.
    The last topic discusses the health and education of children and adolescents
    receiving remittances and social assistance. Employing the probit method, it is
    known that the remittances recipient children have better health performance than
    the non-receiver or even the children who receive social assistance. Furthermore, a
    balanced nutritional intake and regular physical activity also determine the
    nutritional status of children and adolescents. Nevertheless, it is found that children
    who came from remittances receiving households tend to have a lower level of
    school participation due to migration culture.

    Keywords: Remittances, Social Assistance, Household Expenditure, Subjective
    well-being, Poverty, Inequality, Education, Health, Indonesia
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi