Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

Penanganan Pencemaran Kabut Asap Lintas Batas Di Asia Tenggara (Studi Kasus Perbatasan Indonesia-Singapuramalaysia)


Tata kelola lingkungan regional Asia Tenggara menjadi perhatian serius
bagi pengkaji lingkungan hidup ketika negara-negara Asia Tenggara ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    D4625D4625Perpustakaan Sekolah PascasarjanaTersedia
  • Perpustakaan
    Sekolah Pascasarjana
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    D4625
    Penerbit : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    NONE
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Tata kelola lingkungan regional Asia Tenggara menjadi perhatian serius
    bagi pengkaji lingkungan hidup ketika negara-negara Asia Tenggara menghadapi
    bencana lingkungan kawasan yaitu pencemaran udara lintas batas. Kompleksitas
    dan kontradiksi terkait prioritas perlindungan lingkungan hidup, organisasi
    internasional dan masyarakat sipil transnasional muncul di dalam penanganan
    pencemaran udara lintas batas di Asia Tenggara. Di sisi lain, teori English School
    belum digunakan di dalam proses dekonstruksi dan rekonstruksi tata kelola
    lingkungan regional Asia Tenggara. Penelitian ini berusaha mengeksplorasi
    kemampuan teori English School di dalam menggunakan studi kasus pencemaran
    udara lintas batas di Asia Tenggara di dalam dekonstruksi dan rekonstruksi tata
    kelola lingkungan regional Asia Tenggara.
    Pertanyaan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana
    perdebatan dalam teori English School yaitu antara pluralisme dan solidarisme
    serta sistem internasional, masyarakat internasional dan masyarakat dunia
    berkontribusi di dalam proses rekonstruksi tata lingkungan regional Asia
    Tenggara melalui studi kasus penanganan pencemaran udara lintas batas di
    perbatasan Indonesia, Malaysia dan Singapura. Penelitian ini adalah penelitian
    kualitatif dengan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah processtracing. Sumber data primer berasal dari wawancara mendalam dengan
    narasumber yang berasal dari praktisi, pemikir English School dan aktivis
    lingkungan. Sumber data sekunder berasal dari kajian literatur yang berasal dari
    jurnal bereputasi internasional, jurnal terakreditasi nasional, buku dan media
    elektronik.
    Penelitian ini menghasilkan tiga kesimpulan. Pertama, pluralisme dan
    solidarisme menjadi instrumen dekonstruksi tata lingkungan global Falkner
    dengan dekonstruksi masing-masing institusi yaitu pembangunan berkelanjutan,
    organisasi internasional dan global governance. Bentuk interaksi rivalitas antara
    negara dan masyarakat sipil transnasional bertransformasi menjadi sinergi dalam
    kerjasama antara Roundtable Sustainable Palm Oil dan Indonesian Sustainable
    Palm Oil. Kedua, rekonstruksi tata lingkungan regional Asia Tenggara dilakukan
    dengan penggunaan trikotomi sistem internasional, masyarakat internasional dan
    masyarakat dunia yang menghasilkan tata kelola lingkungan Asia Tenggara yang
    terdiri atas kedaulatan inklusif, greening ASEAN Way dan multi-stakeholder
    initiative. tata kelola lingkungan regional Asia Tenggara terdiri atas kedaulatan
    inklusif, greening ASEAN Way dan multi-stakeholder initiative. Ketiga institusi
    tersebut menandai transformasi tata kelola lingkungan regional Asia Tenggara
    dari sistem internasional menjadi masyarakat internasional.

    ABSTRACT
    Southeast Asia regional environmental governance is criticized in dealing
    with transboundary haze which has brought negative impact to Southeast Asia
    countries. It provokes complexity and contradiction regarding the urgency of
    environmental protection, international organization and transnational movement
    related to mitigation and prevention of the transboundary haze. Meanwhile
    English School theory has not been used as tools to deconstruct and reconstruct
    Southeast Asia regional environmental governance. This research attempted to
    explore the ability of English School in reformulating Southeast Asia regional
    environmental governance.
    The research question is on how the debate of English School between
    pluralism and solidarism interact with the debate between international system,
    international society, and world society in the case study of transboundary haze in
    Southeast Asia. This qualitative research used process-tracing as the research
    method with in-depth interview with activists, bureaucrats and scholars as the
    primary data. Secondary data will be obtained from literature review of
    international journals, national journals, books, and electronic media.
    This research has three conclusion. First, pluralism and solidarism are
    tools to deconstruct global environmental governance of Falkner which consist of
    sustainable development, global governance and international organization.
    Rivalry of state and transnational cavity society has been changed to cooperation
    in the forms of synergy between Roundtable Sustainable Palm Oil and Indonesian
    Sustainable Palm Oil. Second, the reconstruction of regional environmental
    governance used the trichotomy of international system, international society and
    world society. The reconstruction resulted to Southeast Asia regional
    environmental governance that consisted of inclusive sovereignty, greening
    ASEAN Way and multi-stakeholder initiative. These institutions marked a
    transformation of regional environmental governance that emphasized the
    international society of English School.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi