Detail Cantuman

Image of Praktik pertambangan intan dan faktor -faktor yang me3mpngaruhi alih fungsi lahan sawah menjadi lahan pertambangan intan...

 

Praktik pertambangan intan dan faktor -faktor yang me3mpngaruhi alih fungsi lahan sawah menjadi lahan pertambangan intan...


ABSTRAK

Usaha pertambangan intan yang dilakukan oleh masyarakat di Kelurahan Sungai
Tiung Kota Banjarbaru telah mempengaruhi ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001100700016333.765 Yan p/R.25.208Perpustakaan Pusat (REF.208)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    333.765 Yan p/R.25.208
    Penerbit Magister Ilmu Lingkungan : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    XI,;95 HLM,;29 CM
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    333.765 Yan p
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • ABSTRAK

    Usaha pertambangan intan yang dilakukan oleh masyarakat di Kelurahan Sungai
    Tiung Kota Banjarbaru telah mempengaruhi terjadinya alih fungsi lahan sawah
    menjadi lahan pertambangan intan. Dalam kurun waktu 8 tahun (2000-2008)
    telah terjadi kehilangan lahan sawah seluas 306 hektar. Penelitian ini dilakukan di
    Kelurahan Sungai Tiung Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan mulai bulan
    September sampai dengan Nopember 2009. Tujuan penelitian adalah untuk: (1)
    mendeskripsikan sejarah pertambangan intan di Kalimantan Selatan; (2)
    mendeskripsikan praktik pertambangan intan oleh masyarakat Kelurahan Sungai
    Tiung; (3) mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi
    lahan sawah menjadi lahan pertambangan intan. Pengumpulan data dilakukan
    melalui wawancara semi struktur terhadap informan yang ditentukan secara
    purposive.. HasiI penelitian menunjukkan (1) Sejarah pertambangan intan di
    Kalimantan Selatan dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu zaman Kerajaan Banjar
    (1526), zaman penjajahan (1612-1945), dan zaman kemerdekaan (1945-sekarang);
    (2) Praktik pertambangan intan dilakukan masyarakat secara turun temurun
    dengan peralatan sederhana sebagai warisan budaya dan sekaligus sumber mata
    pencaharian. Mulai berkembang sejak ditemukannya intan trisakti pada tahun
    1965 dan mengalami intensifikasi dan mekanisasi sejak tahun 2000 yang
    mempengaruhi alih fungsi lahan sawah menjadi lahan pertambangan; (3) Faktor­
    faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan adalah: (a) faktor ekonomi yaitu
    rendahnya pendapatan yang diperoleh dari lahan sawah yaitu Rp. 148.000,­
    Ikeluargalbulan dibandingkan dengan pendapatan dari menambang intan yang
    mencapai Rp. 333.000,- sampai dengan Rp. 1.250.000,-/keluargalbulan; (b) faktor
    budaya yaitu usaha pertambangan intan telah berlangsung secara turun temurun
    sejak zaman kerajaan Banjar; dan (c) faktor kebijakan yaitu tidak terlaksananya
    Perda Nomor 5 Tahun 2002 tentang Pengelolaan Pertambangan Rakyat Bahan
    Galian Strategis dan Vital (Gol A dan B) sehingga pertambangan intan tidak
    terkendalikan.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi